Jarak yang Cukup

'Suatu hari nanti mungkin kamu akan paham mengapa'

Harapan kecil yang beberapa kali mulai meredup meski kutahu tak benar-benar menghilang. Mengapa bonsai lebih indah dari sebuah pohon tomat? Pohon tomat tumbuh subur hijau, kemudian tak butuh waktu lama untuk membuahkan tomat. Setelah itu umur pohon tomat tak lama setelah beberapa kali panen, dia akan kehilangan kesuburan kemudian mati. Tetapi tidak dengan bonsai, meski terihat tidak subur, bahkan sekilas terlihat tidak tumbuh bonsai tetap bernafas, bonsai tetap hidup, umurnya panjang seperti tanaman berakar tunggang lainnya.

Telah lama, cukup lama untuk menunggu waktu ini. Ada banyak kesempatan, tinggal mencari cara untuk memulai. Ya, waktu dimana kita bisa saling berdekatan. Setelah itu kamu akan bahagia karena kamu akan mendapatkannya. Tetapi ada banyak pertimbangan mengapa jarak menjadi pilihan. Cukup apa yang ada sekarang. Tidak ada chatting, tidak ada saling menyapa meski hanya lewat media sosial. Jarak yang setidaknya akan menjaga agar hati kita tidak terlena akan dunia yang kita tahu sifatnya sangat sementara. Sekejap. Tidak terlena pada perasaan yang ku takut itu hanya bersifat sementara.

Ya, aku seperti orang bodoh yang berbicara seolah-olah kamu akan membacanya. Aku seperti kesetanan menahan perasaan yang baru saja mengguncang. Beberapa malam setelah pertemuan tak sengaja itu. Menyulut kembali harapan yang semula telah hampir mati. Ehm, barangkali hibernasi, kenapa harapan itu tiba-tiba datang kembali.

Siang, malam, pagi dan sore. Ketika duduk, berdiri, ketika berjalan bahkan ketika menjelang tidur, wajah dan senyumanmu menyita pikiranku. Kamu pikir ini lucu beraninya kau menyajikan wajah manismu di hadapan mataku. Beraninya kau meninggalkan bekas ingatan dalam otakku. Apa maksudmu coba, menguji imanku? Sudahlah tolong jangan pernah tersenyum apalagi menyapaku, karena mendengar namamu dari orang lain saja sudah cukup membuat syaraf pendengaranku bergetar. Seolah waktu tiba-tiba berhenti sepersekian detik ketika nama yang familiar itu masuk kedalam otakku. Menyetrum ke segala syaraf otak dan memori, mengingat kembali siapa pemiliknya, mengapa hatiku bergetar mendengarnya.

Saling tahu nama cukup untuk sekarang. Perjalanan masih sangat jauh, apa pentingnya kita saling ta’aruf saat ini. Apa pentingnya kita dekat sekarang? Apa pentingnya kita saling menyemangati sekarang? Padahal kita belum tahu apakah cerita akan berakhir seperti harapan kita sekarang. Padahal aku berharap sepertimulah yang menggenggam tanganku menuju surga kelak. Bukan saling membakar dalam api neraka. Bukan pula saling mengenal saat ini sedang kita sama-sama masih mempunyai mimpi masing-masing. Meskipun begitu besar harapan untuk selalu dekat tetapi untuk apa dekat sekarang, sedang kita belum tahu siapakah yang sebenarnya kelak akan selalu dekat dengan kita.

Ketika perasaan itu bergejolak, tiap kali suaramu menggema dalam ingatanku. Kamu pikir apa yang bisa kulakukan? Mendatangimu? Menyapamu? Menceritakan apa yang terjadi dengan perasaanku padamu? Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak bisa apa-apa. Aku hanya teringat kamu dan aku tidak bisa apa-apa.
Allah sangat baik. Tentu saja keyakinan itu tidak boleh pudar. Bukan tak sayang mengapa memberikan perasaan saling ketertarikan itu. Allah hanya ingin memberi tahu bahwa perasaan itu nyata. Kamu tak mampu menangkapnya, tak bisa melihatnya, kamu hanya bisa merasakannya. Tetapi perasaan itu begitu nyata, hingga mampu mengguncang jiwamu.

Ya, jarak ini cukup. Untuk saat ini.

Tembalang, Semarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Dunia tak hanya Cinta

Pada Malam Hari