Diskusi Jasad dan Ruh

Bayangkan,
Bagaimana kalau ternyata wajah jasad dan wajah ruh kita itu berbeda.
Bayangkan, bagaimana kalau ternyata cantik/gantengnya wajahmu di depan cermin jauh berbeda dengan wajah ruhmu.
Orang tunanetra tidak pernah diijinkan untuk melihat wajah fisiknya, dan bagaimana kalau ternyata seperti itulah mata kita sekarang terhadap wajah ruh kita.
Sudahkah merasa sempurna dengan cantik dan gantengnya wajah fisikmu sekarang? Wajah bersih, mata tajam, bulu mata lentik. Sempurna, pikirmu. Tapi apakah kamu yakin bahwa wajah jasadmu itu juga persis dengan wajah ruhmu?
Minggu lalu ada sebuah musibah menimpa kawan organisasiku. Ayahnya yang beberapa minggu sakit, telah berpulang ke Illahi. Dia pun sah menjadi yatim. Gadis yang seharusnya masih membutuhkan sosok seorang ayah, yang masih membutuhkan seorang laki-laki yang melindungi tanpa tendensi apapun, lelaki tempatnya bersandar selama ini. Kini tak perlu lagi merasa butuh. Tak bisa lagi berharap yang serupa.
Hari itu adalah malam, sekitar pukul setengah sepuluh jasadnya sudah dikuruk tanah. Orang-orang berbondong meninggalkan makam. Desah tangis, air mata tak bisa lagi terbendung. Wajah ayunya terlihat begitu kokoh melepas tumpuan pundaknya selama ini. Bisunya, kutahu itu adalah cara menahan lelehan air mata. Hanya mengangguk dan diam. Ku bertanya dalam hati sebesar apakah karang yang tertanam dalam qalbunya.
Aku hanya berpikir, sedekat itukah maut mengiringi kehidupan. Hidup dan mati adalah satu koin dua mata sisi. Mungkin lebih dekat. Hal yang sama yang pernah disampaikan Imam Al-Ghozali, ketika menanyakan kepada muridnya tentang hal apa yang paling dekat dengan kita (manusia)? Tentu saja kematian.
Mungkin boleh saja saat ini kita berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Bisa jadi kita berpilu hati, terluka berpisah dengan orang yang biasanya selalu di samping kita. Orang yang biasanya tempat kita bercerita, berbagi mimpi. Orang yang bahkan semenjak kita lahir selalu melindungi, memeluk dan menghangatkan tubuh kecil kita. Orang yang mengajari kita berjalan, bangkit ketika jatuh dan banyak hal lain. Sedekat itu dan tiba-tiba menghilang tak berbekas. Tak bisa lagi dijumpai meski kau pergi ke ujung dunia. Ya sedekat itu dan hilang begitu saja.
Lalu bagaimana jika kita berpikir hal yang sama dari sudut pandang ruh kita? Ups, mungkin ini terlalu sulit dimengerti. Baiklah mari kita berdiskusi tentang jasad dan ruh.
Seberapa besarnya cinta dan sayangmu pada dirimu sendiri? Seberapa takutkah kamu ketika dirimu disakiti? Seberapa seringkah kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri? Saya yakin sebagian orang mempunyai sisi egoisnya masing-masing. Dan egois inilah yang membuat kita terlalu menyayangi diri sendiri.
Wajah yang biasa kau jumpai di depan cermin. Tangan yang membantumu melukis cerita, mata yang menolongmu mengerti dunia dan semua bagian jasadmu. Yang barangkali banyak pula orang yang mencintaimu karenanya, yang mencintaimu karena jasa tangannya, yang mencintaimu karena redup pandangnya, lembut tutur sapanya. Pernah tidak terpikirkan kapan terkahir kali akan melihatnya, kapan terakhir kamu akan berjumpa dengan senyuman manis didepan cermin itu? Itulah kematian. Jasad ini adalah dunia. Ruhmu adalah akhiratnya. Jasadmu adalah sementara dan ruhmu adalah selamanya.
Kalaulah make over dapat memperindah jasadmu, barangkali perawatan untuk memperindah wajah ruh adalah memperbaiki hati, dan tingkah laku, adab terhadap Allah, adab terhadap orang tua dan adab terhadap orang lain.

Semoga kelak, kita semua akan terkejut dengan wajah-wajah kita yang indah ketika bercermin bercermin di permukaan air sungai-sungai surga. Keindahan untuk menemui Yang Maha Indah. Amiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta