Kamu Tahu

Kamu Tahu 
Oleh : Zahranisa

“Ini tidak mudah, aku sudah berusaha tetapi aku tidak bisa”, kata Azmi.
“Apapun yang terjadi, aku harus beranjak”, perempuan di depannya membalas dengan singkat sembari melangkah pergi.
Azmi hanya menyaksikan langkah itu semakin jauh dari tempatnya berdiri. Raganya seperti ingin melayang hilang bersama jiwa yang telah kosong tanpa mampu merengkuh harap yang terus tergerus waktu yang melarut. Tangannya ingin sekali meraih tubuh berbalut kain panjang itu agar tetap menemaninya berdiri, tapi harap itu hanya menggantung di imajinya. Dia buka buku di tangannya yang baru saja diberikan perempuan itu.

`Tetaplah melangkah di jalan ini, meski mata tak mampu memandang ujungnya, meski kaki terluka karena terjalnya, sekalipun hati harus sering menggigil karena sepinya. Tapi di sanalah Allah menaruh cinta yang sesungguhnya. Meski bukan harus yang kau mau, tetapi itulah cinta yang akan menemanimu ke surgaNya. Kamu tahu, skenarioNya tak pernah salah tercatat`

Sepucuk kertas terselip di halaman paling depan. Buku karya penulis yang sama-sama mereka idolakan. Penulis yang bait-bait nasehatnya sering menghiasi halaman media maya  mereka.
**
Bulatan merah itu kian melesat tinggi menebar hawa panas. Debu dan asap kendaraan bermotor menghambur ke udara, menambah sesak udara siang itu. Beberapa orang terlihat malas berjalan melewati tanah hitam yang memantulkan panas ke wajah. Mereka lebih memilih menepi, membelokkan kendaraan menuju sebuah masjid tiga lantai. Warna hijau tua tampak menghiasi temboknya, beberapa garis berwarna hijau muda. Terdapat tulisan besar “Masjid Kampus Darussalam” berwarna perak, menempel pada dinding luar bagian atas gedung, tepat lantai ketiga.
Setelah melaksanakan sholat dhuhur mereka tidak langsung beranjak pergi, mereka lebih memilih bersandar di pojok lantai tiga. Bukan hanya mereka, tampaknya beberapa mahasiswi juga melakukan hal yang sama, di bagian pojok lain terlihat beberapa mahasiswi berjejer membuka mushaf kemudian menutup kembali, nampak mulut mereka komat kamit mengulang bacaan yang sama. Seperti halnya masjid kampus pada umumnya, ketika dhuhur tiba, mahasiswa dan mahasiswi akan memenuhi ruang wudhu, kemudian mengantri mukena bagi yang perempuan.
Masih di lantai tiga, beberapa mahasiswi terlihat sibuk berunding, dan  menyiapkan lembaran-lembaran kertas yang entah apa isinya.
“Mbak Nayla, yang ini dibagi kemana lagi Mbak?”, tanya seorang adik kelas kepada seniornya.
“Emmm... sisa ya, kalian sudah sholat?”  jawab perempuan yang mengenakan hijab panjang berwarna ungu tua.
“Ini kita baru akan sholat, tadi di mushola teknik crowded banget, jadi kami memilih kembali kesini saja”
Nayla Karima. Perempuan yang banyak di panggil namanya dalam sebuah forum mahasiswa, penggiat acara-acara kemuslimahan. Nayla, perempuan berjilbab besar yang banyak dikenal di kalangan adik kelas dan kakak kelas. Senyum yang senantiasa menghiasi wajah ayunya dan sikap hangatnya kepada semua orang membuat kehadirannya selalu dirindukan.
“Ma, tuh dua orang di pojokan udah dikasih belum?” tanya seorang perempuan mengenakan jilbab warna hitam yang akrab dipanggil Annisa. Annisa merupakan sahabat terdekatnya, mereka selalu bersama dan banyak mengingatkan satu sama lain. Annisa, perempuan tegas dan berpendirian teguh, tak banyak memberi toleransi kepada siapapun.
“Yang mana, oh itu, udah nanti aja kayaknya mereka lagi kecapekan” jawab Nayla.
“Ma, pinjem hape bentar dong, pulsaku habis”
“Mau sms?”
“Ehmm, iyalah, tuh Kadepku bawel banget. Masak nanti sore mau syuro’ tadi pagi baru ngasih tahu. Mendadak banget, aku sih bisa aja, gimana anggota yang lain coba.”
“Hehe... sabar, mungkin dia sibuk ngurusin syiar ikhwan kali, udah sabarin aja. Nih, jangan buka-buka pesan lain lho...” sembari menyodorkan sebuah smartphone miliknya.
“Iya, iya, ehhh ada pesan nih, bentar bentar...”
“Eh jangan dibaca!”
“Jangan dibaca gimana, orang kelihatan kok. Kamu masih berhubungan sama mas Azmi? Bukannya kamu sendiri yang bilang mau menjaga hati, nggak berhubungan sama cowok meski lewat media. Kamu mengingkari omonganmu sendiri? Kamu tuh akhwat lho ya, kamu harus jaga kehormatanmu. Beri contoh yang baik buat adik kelas kita.”
“Aku tahu Nis, tapi... Ini tuh nggak semudah yang kamu bayangkan, lagian aku kan cuma ngontrol dia aja, masih sering ngaji atau enggak. Udah gitu doank. Aku pastikan, aku nggak pacaran sama dia. Aku yang ngajakin dia ngaji Nis, dari awal, dari ketika dia awam di komunitas kita ini. Aku cuma pengen jadi temen aja.”
“Ah, udahlah aku males ngingetin kamu. Kamu susah dikasih tahu. Nih, hapenya, makasih.”
Perempuan berjilbab hitam itu pun berlalu meninggalkan sahabatnya. Banyak kata yang masih menggantung di mata Nayla yang tak mampu terbahasakan atas sikap Annisa.
**
Ting tung.
Ting tung.
Dua pesan muncul di layar hapenya atas nama Kak Azmi. Laki-laki kakak kelas berbeda fakultas yang dahulu juga merupakan kakak kelas sewaktu SMA. Azmi Maulana dahulu merupakan ketua rohis SMA N 1 Madiun. Tetapi memutuskan untuk tidak melanjutkan kiprahnya semasa kuliah karena beberapa hal.
Melalui sebuah perkumpulan anak-anak daerah yang disebut M2 (Mahasiswa Madiun), mereka bertemu kembali setelah tiga tahun Azmi kuliah. Petemuan mereka terjadi pada pertengahan semester genap.
Hari itu merupakan hari pertama Nayla mengikuti acara M2 karena diajak temannya seangkatan. Sebelumnya Nayla tidak pernah tahu ada perkumpulan semacam M2. Dia lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Rohis yang baru menarik hatinya ketika dia kuliah.
Seperti biasanya, setiap ada anggota baru yang bergabung dalam M2 akan disambut hangat oleh anggota lama. Begitupun ketika Nayla hadir, banyak mata yang lekat menatap wajah ayunya. Tak di sangka dari belasan mata itu, salah satunya adalah kakak kelasnya dahulu. Azmi Maulana.
Acara M2 berlangsung kurang lebih selama dua jam, mereka banyak membahas acara bareng-bareng yang mereka laksanakan, seperti hangout atau bakti sosial. Setelah acara ditutup, satu persatu orang meninggalkan forum, beberapa ada yang masih tinggal. Nayla dan Kurnia temannya memutuskan untuk segera beranjak pulang sebelum malam begitu larut.
“Eh, Nayla kamu dulu adik kelasku ya berarti, kok aku nggak pernah lihat kamu, oh atau kamu anak baru?” kata Azmi ketika sebelum mereka meninggalkan forum.
“Iya Kak, aku dulu pernah lihat Kakak kok, ketua Rohis kan ya?”
“Waw, kok kamu tahu. Duh, itu masa lalu”
“Siapa yang nggak tahu ketua Rohis yang berkali-kali menyumbangkan piala untuk sekolah karena juara taujihnya? Beberapa kali dulu kita pernah ketemu, tapi mungkin Kakak lupa. Lagipula...”
“Apa?”
“Aku dulu belum seperti ini”, kata Nayla menunjukkan jilbab besarnya.
“Hehehe... nggak masalah, yang penting sekarang sudah berubah. Bagus, bagus.”
Percakapan pendek itu membuat Nayla bertanya-tanya sepanjang jalan. Dia tidak pernah tahu ternyata seorang Azmi Maulana juga melanjutkan di kampus yang sama dengannya. Pertanyaan terbesarnya adalah mengapa dia tidak pernah mendengar namanya tercatat sebagai anggota Rohis pusat ataupun fakultas. Apakah itu artinya bahwa Azmi tidak melanjutkan kiprahnya di dunia keagamaan? Mungkin saja seperti itu, tapi mengapa, bukankah dia adalah orang yang dahulu banyak menginspirasi dan mengajak banyak orang untuk sadar agama. Dialah yang senantiasa mengisi kajian Jum’at untuk para siswa dengan bahasanya yang mengagumkan. Bukan hanya siswa yang kemudian menjadi hanif karenanya, banyak guru yang banyak terbuka mata karena taujihnya. Begitulah Azmi Maulana dahulu.
Sore itu selakar masjid kampus nampak sepi, rupanya tidak banyak mahasiswa yang ambil kuliah sore. Nayla duduk di pojokan bangku dekat dengan tempat wudhu wanita.
“Hay Ma”, panggil Annisa terhadap Nayla memotong nama panjangnya, Karima.
“Eh, hai. Eh Nis, kamu tahu nggak apa yang membuat orang pergi dari jalan yang kita lalui ini?”
“Kamu mau berhenti Ma?” ucap Annisa kaget dengan nada tinggi.
“Enggak... Jadi gini, kakak kelasku dulu, ketua Rohis SMA ternyata dia kuliah di sini juga. Teknik Kimia. Aku juga baru tahu. Setahu aku namanya tidak pernah ada di list anggota pusat ataupun fakultas. Itu artinya dia tidak ikut Rohis lagi kan?”
“Siapa namanya?”
“Azmi. Azmi Maulana.”
“Apa? Itu nama kok nggak asing ya, atau memang pasaran. Huh, siapa ya?”
“Ohhh, itu nama pacarnya adik kostku, duh dia cerewet banget sering curhat. Sayangnya waktu ku bilang putusin aja pacarnya itu, eeh malah nggak mau ikut ngaji lagi, ya udah sampai sekarang masih pacaran deh.” kata Annisa melanjutkan.
“Teknik Kimia juga?”
“Iya kok. Eh bentar, nih DP adik kost ku, bareng sama Azmi” sambil mengeluarkan hapenya.
“Astaghfirullah. Iya benar orang yang sama. Kak Azmi pacaran.”
“Kok kamu kecewa gitu Ma? Kamu nggak suka sama Azmi kan?”
“Enggak kok, cuma dulu aku pernah kagum waktu SMA. Kemarin dia hubungi aku lewat sms. Aku pengen ngajakin dia ikut Rohis lagi, kamu pasti kagum juga kalo denger taujihnya.”
“Apa? Kamu sms-an sama dia? Ma, ingat itu bisa menjadi celah syeitan untuk meruntuhkan imanmu, hati-hati lho. Apalagi kamu koordinator akhwat, banyak orang yang menyorotimu Ma, karena jilbab besarmu, karena kiprahmu. Jangan buat orang merasa kucing dalam karung ketika melihatmu”
“Astaghfirullah... iya Nis,makasih kamu udah ngingetin. Aku nggak akan berhubungan dengannya lagi sekalipun lewat sms”
Hujan turun begitu deras malam itu. Suara tilawatil Al-Qur’an terdengar merdu dari sebuah kamar. Tiba-tiba terhenti oleh suara panggilan telephone. Suara di balik sana menyapa hangat, menanyakan apa yang sedang dilakukan. Mereka berbincang mengenai penulis dan acara bedah buku. Beberapa saat perbincangan itu semakin akrab kemudian salah satunya ingat waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Astaghfirullah, ini sudah terlalu malam, sudah dulu ya Kak, maaf.”
“Duhhh, aku yang minta maaf. Bentar sepuluh menit aja. Emmm... La, kamu ikut rohis bukan karena paksaan kan?”
“Enggak, kenapa emang? Kok tiba-tiba interogasi.”
“Kamu hati-hati, dunia Rohis kampus kompleks banget beda dengan Rohis SMA. Berbagai macam pemikiran banyak disana... ada..” kata Azmi belum selesai melanjutkan kalimatnya.
“Udah tahu kok. Trus kakak pikir aku ikut aliran sesat, gitu? Ini alasan Kak Azmi nggak lanjut lagi? Bahkan jauh meninggalkan jalan ini. Seharusnya kakak tetap berdakwah meski tidak mudah. Ketika semua orang berlepas diri seperti itu bagaimana risalah ini akan bertahan?”
“Iya Ma, maksud aku...”
“Udahlah Kak, aku sebenarnya juga kaget ketika tahu ternyata sekarang Kakak pacaran. Kenapa berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Kakak dahulu.”
“Kamu tahu?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Ehhmm, itu... itu... sudah lama, mungkin aku akan segera memutuskannya kok La.”
“Maaf kak ini sudah malam.”
Tuttt... tuttt...
Pagi itu, Nayla memutuskan untuk tidak mengendarai sepeda motor. Selain karena jarak kampus yang tidak terlalu jauh, jam mulai kuliah juga masih lama. Ketika sampai di depan gerbang kampus. Seseorang yang tak asing berdiri tepat di sebelah motornya. Dia menyapa hangat, tetapi lagi-lagi Nayla masih ngambek dengan interogasi tadi malam sehingga mengabaikan sapaan itu. Bagaimanapun Nayla tidak bisa menghindar, dia harus menghadapi laki-laki di depannya yang terus memaksanya berbicara. Dia menawarkan sebuah tiket workshop bedah buku dan memberikan sebuah buku karya tulis terkenal. Awalnya Nayla menolak, tetapi laki-laki itu memaksa agar Nayla menerimanya, setidaknya untuk berbagi ilmu, katanya.
Tanpa membalas kata jumpa, Nayla berlalu begitu saja. Dia pun tidak enak hati, jika hal itu disaksikan oleh anak Rohis lain, atau bahkan adik kelasnya. Tentu akan menimbulkan prasangka dan penilaian buruk dari orang lain.
Selesai kegiatan kuliah, agenda Nayla selanjutnya adalah mengikuti kajian sore yang di adakan rutin di masjid kampus setiap minggu. Sore itu, tidak terlihat sahabatnya Annisa. Barangkali sedang ada kuliah sore. Beberapa hari ini memang jarang agenda yang mempertemukan mereka, sekali ada salah satunya berhalangan.
Seperti biasa ada hijab besar yang menutupi jamaah perempuan dan jamaah laki-laki sehingga tidak akan dapat saling melihat satu sama lain. Kajian berjalan sangat hikmat, banyak mahasiswa yang terus berdatangan hingga acara hampir selesai. Sebelum moderator menutup acara, ketika sesi pertanyaan banyak mahasiswa yang antusias menanggapi materi yang disampaikan ustadz. Salah satu penanya adalah Azmi Maulana. Nayla kaget, ternyata orang itu mengikuti kajian juga. Beberapa menit kajian selesai, satu persatu orang meninggalkan Masjid dengan rapi.
**
Sebuah pesan, menyalakan layar hapenya.
`La, aku udah putus sama pacarku. Sekarang aku memutuskan untuk mengikuti Rohis lagi, kamu tunggu namaku akan segera tercantum di daftar anggota. Nayla, terima kasih udah banyak membuka mataku`
Entah apa yang sebenarnya terjadi. Nayla benar-benar tersentuh dengan kejadian itu. Akan tetapi seperti yang di katakan Annisa dia harus memberikan contoh yang baik terhadap adik-adik kelasnya. Lagipula seperti apapun perasaan kagumnya terhadap Kak Azmi dia paham betul batasan-batasan yang tidak boleh dilampauinya. Menyelisihi hati adalah jalan terbaik. Menjaga hubungan adalah cara terbaik untuk pertemuan dengan jodoh terbaik pula. Bukan harus Kak Azmi, sungguh Allah lebih tahu yang terbaik untuk Nayla.
`Iya selamat. Besok sore aku tunggu di gerbang kampus, aku mau mengembalikan bukumu. Setelah ini jangan pernah hubungi aku lagi. Aku tahu Kakak paham agama lebih dulu daripada aku, sudah tentu pula Kakak tahu batasan perempuan dan laki-laki itu seperti apa`

~Tamat~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta