Koma

Koma
Oleh : Zahranisa

Perempuan itu terdiam. Detik yang terus melaju semakin menghakimi, semakin menyudutkanya. Di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter. Tubuh di depannya membeku. Sejuluran selang dari mulut dan dari tangannya. Sayup-sayup suara ‘tut’ ‘tut’ yang keluar dari sebuah mesin di sebelah kepala tubuh di depannya semakin jelas. Semakin didengar semakin memakinya, seolah meminta pertanggung jawaban untuk segera dikembalikan di ruangan tidurnya yang tak harus ia bergeming setiap detik sebagai suar kehidupan. Di genggamnya berkali-kali tangan dingin itu. Ditatapnya lekat-lekat wajah tanpa ekspresi di depannya.
Berharap sepasang kelopak mata yang dahulu sering kali berkerling mendengar cerita-cerita konyolnya itu terbuka kembali. Kembali berkerling. Sekali lagi. Menatap kembali kornea yang menyiaratkan seribu kebahagiaan, kesedihan atau bahkan kebencian. Sekali lagi, sungguh! Sekali lagi, untuk memperbaiki retak-retak hubungan yang telah terjalin tahunan itu sebelum tubuh itu tergeletak di sana. Dia berharap dari tiap butir udara yang mengawang di ruangan itu. Udara bulan Februari.
Ia pun serba salah atas keadaan itu. Telah lama mereka berteman. Mengungkap rahasia pribadi di sudut-sudut malam menjelang tidur. Berbagi musik, cerpen-cerpen, dan ribuan kisah konyol dari setiap detik mereka bersama. Ledakan tawa, menahan perut dari kegilaan masing-masing atau menertawakan hal nihil bagi orang lain. Tapi bagi mereka itu berarti.
Bisakah ini diperbaiki? Pikirnya dengan terus membisikkan maaf pada wajah ayu di depannya. Tangan yang sedari tadi digenggamnya semakin membeku, seolah tak ingin melihat lagi terbitnya mentari esok pagi. ‘Jangan sekarang! Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya! Sekali saja. Sekali lagi, bahkan kalaupun hanya satu detik. Satu detik untuk membenarkan letak kerah bajumu. Untuk bagaimana kamu bisa kembali menepuk punggungku ketika sedang berkutat di bangku kramat yang sering kali kau urung duduki. Katamu duduk di bangku itu membuatku tersihir kekuatan ghaib yang membuat tak ingin beranjak dari tugas-tugas hingga semua terlihat pantas disebut selesai’.
Perempuan itu tidak pernah menduga, bahwa kediaman temannya selama ini bermakna sama dengan yang dia rasakan. Jikalah waktu berulang dia tak ingin bertemu pada lelaki itu. Atau bahkan hanya tahu namanya saja sungguh urung dia lakukan. Tetapi pilihan untuk tidak mengenal sahabatnya itu, sungguh itu bukan pilihan yang dia inginkan. Bagaimana mungkin kau dapat memilih satu di antara bulang dan matahari. Sementara kau tahu tanpa bulan malammu akan gelap pekat. Siang tanpa matahari pun tak akan mampu disebut siang. Tak bisa! Aku tak bisa! Perempuan itu berkali memaki.
“Ra? Mau nggak anterin aku?”
”Kemana Ga?”
“Emm, balikin buku ini?” sambil memperlihatkan buku rangkuman cerpen best seller karya anak negeri.
“Boleh”
Sore itu sebenarnya Meira ada temu alumni bersama teman-teman SMA nya. Namun menemani seorang sahabat yang hidup sebatang kara di tanah perantauan ini lebih menjadi pilihannya.
“Kenalin nih Ra, Mas Zul dari Padang sekampung sama aku.”
“Meira” katanya sambil menyalami laki-laki di depannya.
“Zulfahmi” laki-laki itu merekahkan senyum ramah.
Sudahlah! Lupakan saja! Perempuan itu terus mengulang kata-kata itu malam terakhir sebelum dia tahu semua hal yang selama ini tersembunyi layaknya matahari yang terdiam di balik hujan. Tak ada salahnya pula mengagumi laki-laki sepertinya. Alim, baik, berparas menawan dan dia juga berteman dengan sahabatnya. Tidak akan salah jikalah pada akhirnya mereka bersatu kelak. ‘Namun terlalu dini aku mengakui ini. Apa salahnya aku mengaku pada Mega’ pikirnya. Sudahlah lupakan saja. Pastilah ini hanya perasaan sementara seperti halnya dia menyukai banyak lelaki sebelumnya. ‘Cinta bukan emosi sesaat’. Ya dia tahu, tapi perasaan ini.
Bagaimana mungkin kau terus diam, sementara kebahagiaan itu, binaran mata yang selalu menjadi hantu tiap malammu terus mengusik. Membuatmu ingin tahu lebih banyak. Bukankah kau tak pernah pula mengundang perasaan semacam ini untuk tiba-tiba mengambil sebagian besar isi otakmu. Membawa sebagian hatimu. Membuatmu ingin selalu bertemu, atau paling tidak cukup melihatnya.
Pagi itu sebuah ketukan pintu membuatnya terperanjat. Sebuah ajakan lari pagi bersama komunitas anak Padang kemudian ditolaknya. Meira lebih memilih berkutat dengan tugas-tugas. Berlari terkejar dateline. Orang itu. Tiba-tiba dia teringat. Kalau saja dia ikut, pastilah wajah itu akan dilihatnya. Ah, tapi sudahlah. Mungkin ini hanya perasaan sesaat. Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi.
“Halo?”
“Aku Zul, kamu yakin nggak ikut? Ini udah di tunggu banyak orang.”
“Zul? Mas Zul?”
“Iya, ini aku disuruh Mega nelpon kamu. Yuk buruan”
Suara itu mendera hatinya. Membumbungkan harapnya. Entah ini benar atau salah. Senyum itu kembali muncul, bersama arak-arakan nada suara yang gemanya berulang-ulang dalam pikiran. Pikiran tiba-tiba terputar, membalik pada detik ketika netranya mampu menangkap binar bercampur senyum. Indah sekali!
Senja terpancar dalam balutan saga. Awan seolah tersedot horizon barat. Menawarkan sensasi kehangatan yang mulai terganti oleh dingin. Dua perempuan tengah menyatu dalam kuasa alam. Tersuguh dua gelas air putih dingin. Membentuk sebuah lukisan dua bidadari berlatarkan senja bernuansa kuning gelap.
“Ga? Mas Zul tuh umurnya berapa?”
“Mas Zul? Dua tiga tahun. Ada apa Ra?”
“Nggak. Dia mirip almarhum kakakku. Perawakannya, senyum, rambutnya, semuanya. Aku hanya banyak teringat Mas Reno melihat Mas Zul.”
“Beda Ra! Mas Reno kelihatannya lebih tampan, kalo aku lihat di foto-foto keluargamu.”
“Kamu seolah menghadirkan kembali Mas Reno di hadapanku Ga.”
Saat itu dia tahu sahabatnya tidak banyak menganggapi ceritanya. Entah dia mulai sadar sesuatu, atau memang enggan. Bagai kupu yang tersihir, terbangnya tak lagi imbang. Kepaknya hanya rendah tak ingin menjangkau bunga yang tinggi. Sontak semua menjadi sedikit berbeda. Sorot mata Mega berbeda, sungguh berbeda sejak detik itu.
Semua hal itu mungkin sedikit akan bertahan lebih lama jikalah malam itu dia tidak memutuskan untuk ikut nimbrung di perkumpulan anak Padang. Sedikit paksaan dari Mega membuat sihir di kursi kramatnya padam. Entah apa yang tiba-tiba menuntunnya ke perkumpulan itu. Ketika dia tiba di sana, hangat anak-anak itu menyambutnya.
“Oke sekarang giliran pasangan Padang yang bernyanyi. Suiitt suiiitttt...!” kata seorang laki-laki berambut brindil memandu acara.
“Apa-apaan nih?”
“Baiklah kita sambut, inilah pasangan baru kita. Mega dan Zuuuulllfahmi..........Ayo kalian duet. Dion akan mengiringi dengan petikan gitar ajaib.”
Apa? Pasangan? Sontak Meira merasa keramaian dan riuh tepuk tangan itu perlahan sirna dari telinganya. Detik menyeretnya ke alam asing yang hanya dia sendiri di sana. Bagaimana dia akan membawa kesadarannya kini. Bagaimana ini? Haruskah dia tetap di sana sementara pikirannya menyuruhnya untuk segera berhimpun dalam sepi. Menepi, mencoba meredakan perih.
Sahabat? Benarkah ini semua? Bukankah seorang sahabat sudah sepantasnya untuk menyadari setiap inchi perbedaan di antara keduanya. Meski sedikit saja. Apakah benar Mega tidak pernah menyadari perasaan kagumnya terhadap Mas Zul. Sementara selalulah Mega yang pertama kali menemukannya jatuh cinta pada orang lain. Dialah yang selalu pertama kali benar menebak. Dialah yang selama ini dianggap sahabatnya. Terbaik selama tiga tahun ini. Meira tidak ingin menjauh, namun bagaimana mungkin dia akan menghadapi kesakitan melihat kenyataan.
‘Bukan salah Mega. Tentu saja bukan. Lalu kenapa dia harus mengenalkanku padanya. Apa maksud hatinya. Sungguh dia menantang maut.’
Meja kramatnya tak mampu lagi menyihirnya untuk tetap duduk diam disana berjam-jam seperti biasanya. Dia lebih nyaman bercerita dengan bantal dalam keremangan kamar atau sesekali malam dia mematikan lampu. Dan bairlah tinggal gelap yang ada. Pekat. Biar Ibu tidak tiba-tiba masuk kamar. Kemudian tahu kalaulah disini sedang ada banjir air mata. Cukuplah ini menjadi rahasianya. Cukup dia saja. Tidak ada sahabat, teman dan yang lainnya.
Sudah sekitar dua bulan dia mencoba menghindar dari Mega ataupun Mas Zul. Telpon, pesan dan yang lainnya semua dia abaikan. Biarlah dia ingin mereka anggap tak ada. Berhubungan dengan mereka hanyalah menyeka lukanya dengan air garam. Bagaimana dia harus berpura-pura dengan kebahagiaan mereka yang sebenarnya sebuah bencana baginya. Tidak! Dia tidak bisa! Dia bukan aktris atau tokoh sandiwara.
Sore itu Ibunya mengetuk pintu kamarnya. Seorang perempuan tiba-tiba muncul dari balik tubuh ibunya. Sosok perempuan yang selama ini dia hindari. Tanpa bisa menghindar, mereka pun bertemu. Ya, memang tidak mungkin untuk selamanya menghindar. Dia bermain di sana cukup lama. Hanya basa basi kaku. Layaknya tak bisa semua terus dibuat-buat seperti ini. Baik Meira dan Mega pun sebenarnya telah mengetahui. Sangat tahu.
“Oke Ga, kamu tahu aku. Kamu tahu segala hal tentangku. Lalu kenapa terus kamu memaksa untuk aku mengenalnya? Aku bosan Ga dengan kepura-puraan ini. Tidakkah kamu tahu, lukanya sedalam apa Ga.”
“Lalu aku bisa apa Ra? Coba kamu pikirkan pula posisiku. Selama enam tahun silam aku mengagumi Mas Zul sebagai kakak kelasku SMP. Sudah sejak lama. Lebih lama sebelum kamu mengenalnya. Ketika kau bilang dia mirip kakakmu, kuakui memang iya. Tapi aku tak ingin kamu lebih mengaguminya lagi. Karena aku telah bersamanya. Aku telah berikat dengannya. Tapi aku tak pernah mampu membahasakannya padamu. Sekarang, haruskah aku putus dengan Mas Zul, Ra? Haruskah agar kita bisa berteman lagi? Sungguh maafkan aku Ra, tidak pernah aku bermaksud egois. Aku menyayangimu Ra. Sahabatku”
Air mata menggelanggang dalam kamar itu. Tidak mampu terhindarkan. Dan untuk pertama kalinya selama mereka berteman. Meira mengusir Mega untuk segera pergi. Matanya menyorotkan kebencian. Seperti tak pernah ada kisah tiga tahunan itu. Tanpa penerimaan maaf, atau sebatas kesadaran. Tidak sedikitpun! Dibantingnya kamar pintu kamar itu setelah Mega keluar. Lukanya membuatnya lebih garang daripada sebatas atom yang meledak. Pintu itu masih saja diketuk dari luar. Terdengar ucapan maaf berkali-kali. Namun, dia pun tak bisa menahan luka itu. Biarlah semua menguap saat ini. Kalaulah mereka tak berteman lagi, biarlah saat ini memperjelas, mempertegas bahwa mereka cukup  hanya sebatas kenal. Itu saja!
“Ra, aku nggak mau kamu berubah. Aku benci perbedaan semacam ini.”
Terdengar deru kendaraan bercampur hujan yang cukup deras. Berangsur suara kendaraan itu lenyap. Berakhirlah semuanya. Butiran-butiran air terus berjatuhan. Bergelantung di antara genting-genting. Tepantulkan cahayanya oleh lampu beranda yang menerangi malam yang mulai pekat. Sepasang mata sembab terkedip-kedip menatap berkas-berkas pantulan sinar dari balik jendela.
“Ra? Ini ada telpon dari nomornya Mega. Ponselmu di matikan ya?” Ibunya tiba-tiba masuk kamarnya.
Tak ada tanggapan.
“Matikan saja bu!”
“Kamu ini kenapa? Sudah biar ibu saja yang mengangkat...
“Wa’alaykumsalam. Iya. Apa? Bagaimana kronolgisnya? Asmanya kumat?”
“Ada apa Bu?”
“Bentar...”
“Iya terima kasih, segera saya beritahu Meira.”
“Mega kecelakaan, dia parah. Asmanya kumat di tengah perjalanan pulang. Dan dia pun oleng tertabrak truk. Sudahlah apalagi yang kamu tunggu. Dia koma dirumah sakit sekarang.”
Bergegas malam itu, saat itu juga. Ketika jarum pendek masih menyempatkan diri duduk di angka sebelas. Meira di temani Ibunya berhambur ke rumah sakit. Disana telah ada Mas Zul yang bermuka sayu.
“Orang tuanya baru bisa kesini besok. Jadwal penerbangan cepat di cuaca seperti ini susah didapat.”
Baiklah. Meira adalah satu orang yang merasa paling bersalah atas semua ini. Berkali-kali dia menyalahkan diri sendiri. Tapi apalah arti penyesalan itu. Semua telah terjadi. Angkara membuatnya lupa banyak hal. Dia tak ingat bahwa asma sahabatnya bisa kambuh kapan saja. Terlebih ketika itu dingin membalut bumi dengan hujan. Tidak dia ingat bahwa di tanah itu baginya, nama Meira memiliki makna penting. Temannya, sahabatnya. Dengan tanpa belas kasihan mengusirnya pulang, memaksanya masuk dalam kubangan hujan.
***
Tangan yang digenggamnya itu semakin dingin. Wajahnya masih saja ayu meskipun pucat pasi. Kelopak mata masih saja menutup dan tak urung terbuka barang sekali saja. Haruskah kesadaran itu terbayarkan dengan darah dan koma semacam ini?

Udara Februari terasa dingin, terbang menusuk tulang. Menari di antara jiwa-jiwa yang terhempas dari raganya. Suar kehidupan masih terdengar. ‘tut’ ‘tut’! Ada kegamangan kalaulah itu tiba-tiba terhenti dan bersiul panjang. Jangan sekarang.

End

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta