Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Hujan

Januari datang lagi. Masih dengan rintiknya yang teduh. Taman kota Semarang nampak tak seramai biasanya. Maklum, ketika hujan meskipun hari libur, orang cenderung memilih duduk di rumah menikmati tayangan televisi dengan secangkir kopi panas. Di bawah pohon akasia, bangku cokelat itu nampak terisi seorang perempuan berpayung hijau. "Iya halo, aku sudah di taman Na?', katanya melalui gadget pada seseorang. Gerimis masih begitu setia menemani bumi. Butir-butir airnya perlahan namun tak jeda.  "Riii, ayo kita ke cafe di sebelah sana yuk?". kata seorang wanita lagi yang menghampiri perempuan pertama tadi. "Di sini aja Na, aku tidak akan lama." kata wanita berpayung hijau mempersilahkan untuk duduk disampingnya. "Jadi ada apa, kok tiba-tiba?" "Aku bingung Na, segala sesuatunya nampak begitu rumit. Sepertinya dengan aku pergi semuanya akan kembali baik." "Apa kamu yakin tidak akan menyesal nanti?" "Aku tak...

Koma

Koma Oleh : Zahranisa Perempuan itu terdiam. Detik yang terus melaju semakin menghakimi, semakin menyudutkanya. Di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter. Tubuh di depannya membeku. Sejuluran selang dari mulut dan dari tangannya. Sayup-sayup suara ‘tut’ ‘tut’ yang keluar dari sebuah mesin di sebelah kepala tubuh di depannya semakin jelas. Semakin didengar semakin memakinya, seolah meminta pertanggung jawaban untuk segera dikembalikan di ruangan tidurnya yang tak harus ia bergeming setiap detik sebagai suar kehidupan. Di genggamnya berkali-kali tangan dingin itu. Ditatapnya lekat-lekat wajah tanpa ekspresi di depannya. Berharap sepasang kelopak mata yang dahulu sering kali berkerling mendengar cerita-cerita konyolnya itu terbuka kembali. Kembali berkerling. Sekali lagi. Menatap kembali kornea yang menyiaratkan seribu kebahagiaan, kesedihan atau bahkan kebencian. Sekali lagi, sungguh! Sekali lagi, untuk memperbaiki retak-retak hubungan yang telah terjalin tahunan itu seb...

Siapa Namamu?

Siapa Namamu? Oleh : Zahranisa Sudah lama nampaknya analisis ini kulakukan. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, hati ini tergetar melihat sosok anggun serupanya. Aku masih ingat tepat 25 Agustus 2014. Sebelumnya aku tak pernah merasa penting dengan urusan rumah sebelah karena memang tadinya rumah ini di huni oleh sekelompok laki-laki, entah bagaimana ceritanya tahun ini nampaknya berganti penghuni menjadi perempuan. Beberapa hari terlihat beberapa orang sibuk bergantian keluar masuk membawa banyak barang ke rumah tersebut. Aku tak pernah berniat secara khusus mengamati, akan tetapi rumah pamanku yang kutinggali ini kebetulan hanya berjarak beberapa langkah saja dengan rumah tersebut, jadi mau tak mau kegiatan di rumah sebelah dengan mudah terdeteksi dari penghuni rumah paman, termasuk aku. Aku tinggal bersama paman Edi, bibi Melly, dan dua orang anaknya, Rio dan Raka. Rio masih duduk di bangku SD sedangkan Raka di bangku menengah. Keluarga ini menerimaku dengan tangan ...

Kamu Tahu

Kamu Tahu  Oleh : Zahranisa “Ini tidak mudah, aku sudah berusaha tetapi aku tidak bisa”, kata Azmi. “Apapun yang terjadi, aku harus beranjak”, perempuan di depannya membalas dengan singkat sembari melangkah pergi. Azmi hanya menyaksikan langkah itu semakin jauh dari tempatnya berdiri. Raganya seperti ingin melayang hilang bersama jiwa yang telah kosong tanpa mampu merengkuh harap yang terus tergerus waktu yang melarut. Tangannya ingin sekali meraih tubuh berbalut kain panjang itu agar tetap menemaninya berdiri, tapi harap itu hanya menggantung di imajinya. Dia buka buku di tangannya yang baru saja diberikan perempuan itu. ` Tetaplah melangkah di jalan ini, meski mata tak mampu memandang ujungnya, meski kaki terluka karena terjalnya, sekalipun hati harus sering menggigil karena sepinya. Tapi di sanalah Allah menaruh cinta yang sesungguhnya. Meski bukan harus yang kau mau, tetapi itulah cinta yang akan menemanimu ke surgaNya. Kamu tahu, skenarioNya tak pernah salah tercatat...

Sebuah Senyuman

Sebuah Senyuman Dipojok kampus ini, aku terdiam dalam renunganku. Dalam hiruk pikuk yang tak bisa aku melebur didalamnya. Aku terhanyut dalam duniaku sendiri, dalam pena dan kata. Lalu lalang mahasiswa didepanku hanyalah nada-nada piano yang seolah mewarnai setiap alur dalam ceritaku. Senyuman itu masih saja menginspirasiku banyak hal, seperti ketika kehadirannya dapat kucapai dengan netraku. Ingin kugambar dalam kertas putih, tapi sayangnya aku bukanlah seorang pelukis. Imajiku mengawang jauh keangkasa, menembus rentetan gedung-gedung diseberang, terbang bersama harapan yang sempat singgah dalam anganku. Kisah itu dimulai ketika aku bersikukuh tidak ingin dicap sebagai mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang, kuliah pulang. Aku pun memutuskan mengikuti sebuah kepanitiaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa. Berbeda dengan organisasi mahasiswa lainnya, organisasi ini hanya berlangsung selama periode Pemilihan Raya dikampus, setelah Presiden dan Wakil Presiden mahasis...