Sebuah Senyuman



Sebuah Senyuman

Dipojok kampus ini, aku terdiam dalam renunganku. Dalam hiruk pikuk yang tak bisa aku melebur didalamnya. Aku terhanyut dalam duniaku sendiri, dalam pena dan kata. Lalu lalang mahasiswa didepanku hanyalah nada-nada piano yang seolah mewarnai setiap alur dalam ceritaku.
Senyuman itu masih saja menginspirasiku banyak hal, seperti ketika kehadirannya dapat kucapai dengan netraku. Ingin kugambar dalam kertas putih, tapi sayangnya aku bukanlah seorang pelukis. Imajiku mengawang jauh keangkasa, menembus rentetan gedung-gedung diseberang, terbang bersama harapan yang sempat singgah dalam anganku.
Kisah itu dimulai ketika aku bersikukuh tidak ingin dicap sebagai mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang, kuliah pulang. Aku pun memutuskan mengikuti sebuah kepanitiaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa. Berbeda dengan organisasi mahasiswa lainnya, organisasi ini hanya berlangsung selama periode Pemilihan Raya dikampus, setelah Presiden dan Wakil Presiden mahasiswa terpilih dan dilantik, organisasi ini tidak lagi aktif. Masanya kira-kira hanya sekitar lima bulanan.
Setelah melewati seleksi yang ketat, seperti acara wawancara, tes tertulis dan lain sebagainya. Sehari setelahnya hasil seleksi pun diumumkan. Dari sekitar lima puluhan yang mendaftar, hanya dua puluh lima yang diterima sebagai anggota. Untuk tahap selanjutnya kita dikumpulkan dalam rapat pembukaan dan perkenalan anggota dari berbagai jurusan dan program studi. Beberapa minggu berlalu, banyak pertemuan dan rapat dilakukan. Meski begitu, aku belum hafal nama-nama anggota organisasi tersebut, disamping karena aku sendiri tidak mudah berkenalan dengan orang baru, banyak juga anggota yang sering absen saat rapat. Namun hal ini ternyata tidak berlangsung lama. Setelah upacara pelantikan, kami resmi menjadi badan yang diakui di kampus. Pertemuan dan rapat semakin sering dilakukan, pulang malam bukan lagi menjadi hal lazim untukku. Pada akhirnya, menghafal nama bukanlah pekerjaan khusus yang harus dilakukan karena aku mulai hafal dengan sendirinya, mulai dari coordinator tiap sie, ketua yang humoris, wakilnya yang bersahabat, sampai semua anggota dalam organisasi itu.
Kebetulan saat itu aku terpilih menjadi coordinator Sie acara, yang bertugas merancang setiap kegiatan yang akan dilakukan. Sebagai sie acara, aku juga seringkali pulang telat, selang beberapa jam setelah teman-teman yang lain pulang. Terkadang juga harus hadir rapat khusus untuk berkonsultasi dengan atasan-atasan yang lebih memahami konsep setiap acara.
Aku mulai senang dengan kegiatan-kegiatan didalamnya, seperti rapat berkali-kali yang terkadang memang membosankan, berburu sponsor, dan hal-hal kecil lain yang belum pernah aku temui sebelumnya. Semenjak aku masuk diorganisasi ini, aku merasa menjadi manusia yang lebih berguna.
Suatu ketika ada sebuah jadwal kampanye yang diadakan disetiap Jurusan di kampus. Setiap jurusan ditugaskan lima orang anggota organisasiku, dan aku terpilih bersama empat orang lain diantaranya, ketua, tiga orang cewek temanku. Kami bertugas memadu, menyelenggarakan, dan mengawasi jalannya acara.
Saat itu belumlah ada hal-hal aneh yang kurasakan semua berjalan seperti biasa saja. Aku melihat sosok ketua sebagai orang yang begitu bertanggung jawab dan ramah terhadap semua anggota. Ternyata hal itu bukanlah pendapatku saja, anak-anak lain pun berpikir demikian. Sapanya begitu lembut dan sopan, senyumannya ramah kepada semua orang. Dia juga merupakan sosok yang humoris, meski terkadang lebih cocok dibilang kekanak-kanakkan. Terkadang dia terbuka bercerita tentang kehidupannya, bagaimana dia bermimpi, rencana masa depan, serta dia sebagai takmir sebuah masjid diperumahan, dan yang membuatku kaget adalah dia seorang guru les anak-anak SD. Terkadang lucu sekali dibayangkan meski sebenarnya aku saja yang berlebihan.
Hari itu adalah Rabu, aku sengaja izin kuliah bersama empat orang lain yang bertugas menjaga kampanye pada hari itu. Setelah seharian yang melelahkan sekitar pukul dua pasca acara, aku duduk diposko dan kebetulan anak yang lain sudah kembali beraktifitas masing-masing kecuali satu orang temanku yang masih sibuk mengurusi sibuk menyebar surat izin ke petugas absen tiap jurusan dan juga satu lagi bapak ketua, begitu aku memanggilnya. Tiba-tiba temanku yang sie humas harus segera mengurusi surat dan aku menunggunya diposko organisasi kami. Saat itu bapak ketua juga nampaknya tidak beranjak akan mengikuti kuliah selanjutnya. Hanya ada aku dan bapak ketua saat itu diposko, aku hanya merasa ganjal saja kalau harus satu ruangan bersama orang bukan mahram, lagi pula juga tidak etis, akhirnya aku memutuskan untuk keluar ruangan sekadar untuk melihat cahaya langit yang cerah tanpa awan. Aku bersyukur tidak lama setelahnya temanku yang sie humas datang dan menemaniku disana, setidaknya aku tidak berdua saja bersama bapak ketua.
Hari-hari masih berjalan seperti itu, dan aku masih disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Dalam celah hari-hari itu entah mengapa kekagumanku terhadap ketua semakin membuncah yang aku piket, hal ini bukan lagi dalam lingkup profesionalitas. Perlahan namun pasti, senyuman itu semakin sering membayangiku. Aku rasa dia pun tidak menyadari ada seseorang yang mengaguminya dan berharap setiap hari melihat senyumannya.
Hari H pun tiba ketika Pemilihan Raya dilaksanakan, semua mahasiswa dikampus memberikan suara untuk calon Presma selanjutnya. Kami begitu sibuk seharian dari petang sampai petang boleh dibilang. Pada malam terakhir saat pengumuman hasil pemungutan suara, aku melihat dia begitu berbeda dengan biasanya, matanya begitu merah, wajahnya pucat, mungkin efek kerja seharian pikirku.
Pasca hari itu kami tidak saling bertemu lagi, baik dengan ketua atau anggota lain, terkadang aku bertemu anak-anak namun hanya bisa saling menyapa dan tidak mengobrol banyak. Dua minggu berlalu, sebenarnya aku merasa ingin sekali melihat senyuman manis itu, namun sulit rasanya untuk mengulang saat-saat itu, ketika aku bisa sering melihatnya ditengah kesibukan-kesibukan kami semua. Tidak mungkin juga aku berkunjung kekawasan gedung kuliahnya yang mayoritas didominasi oleh laki-laki, yang ada dibilang tebar pesona atau bahkan cuci mata.
Sebulan telah berlalu, tidak terasa kehidupanku terasa sepi dan lebih longgar mempunyai banyak waktu luang sekarang dengan tanpa disibukkan dengan berbagai kegiatan rapat, atau membuat rundown acara. Disebuah jalan menuju tempat parkir, aku bertemu dengan salah satu anggota organisasiku, dia menceritakan bahwa ketua sakit dan tidak masuk kuliah selama seminggu pasca kegiatan sebulan lalu. Aku syok saat diberitahu berita tersebut, ingin rasanya segera pergi dan menjenguknya serta memastikan bahwa sekarang dia baik-baik saja. Suatu hari aku melihatnya dimasjid kampus, hanya sekilas dan aku rasa dia tidak menyadari kehadiranku saat itu. Aku sedikit lega saat itu bisa melihat dengan kepala sendiri bahwa dia baik-baik saja, namun sayangnya aku tak sempat melihat senyuman itu masih ada diwajahnya atau tidak, aku belum bisa memastikan kebahagiaan yang selalu terpancar disinaran matanya masih ada disana atau tidak.
Hari Jum’at pagi, aku masih sibuk prepare buku dan mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai, saat itu jam kuliahku dimulai jam 09.30 jadi aku sedikit santai. Tiba-tiba ponsel diatas meja kamarku bergetar. Kubuka sebuah sms yang sempat membuat nafasku terhenti sejenak, mataku mulai memerah, hatiku tersentak kaget. Semua pikiranku pun buyar, kertas-kertas tugas berserakan dikamar kutinggalkan begitu saja dan aku segera berganti pakaian untuk menuju kekampus. Sepeda motor keluaran 2012 itu membawaku segera ke perkumpulan yang mungkin sudah ada depan posko sejak sejam yang lalu. Wajah mereka nampak sedih, bahkan beberapa diantaranya terlihat bermata sembam. Aku pun langsung memeluk salah satu temanku dan tanpa mampu berucap sepatah kata pun, mungkin hanya air mata yang mampu mewakili kesedihan ini. Rasa kehilangan yang tak hanya aku rasakan nampaknya membuat acara pagi menjelang siang itu terasa kelam, kami pun bergegas memasuki sebuah bus yang sudah disiapkan untuk membawa kami ke sebuah tempat dikota sebelah dimana ketua akan dimakamkan. Namun sayang sekali saat itu, jam ditangan kiriku menunjukkan pukul 11.00 WIB dan jenazah bapak ketua telah dimakamkan, disana hanya ada sebuah foto hitam putih, mirip foto ijazah yang dicetak 10R. Disana kami kira-kira hanya sekitar 2 jam, tidak sebanding dengan perjalanan yang harus dtempuh, sekitar 3,5 jam satu kali perjalanan, dengan artian 7 jam perjalanan untuk pulang pergi.
Setelah kejadian itu, aku bahkan terkadang berpikir semua yang terjadi selama 5 bulan itu hanya semacam sebuah mimpi, namun rasa yang ada dihatiku terasa begitu nyata adanya. Sekarang tidak ada lagi senyuman itu, tidak ada lagi kekaguman, atau bahkan ketua diorganisasi itu tinggallah sebuah nama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta