Tentang Sebuah Harap
Tentang Sebuah Harap
Menyapa,
tersenyum, berdiri disini…
Menatap dalam
angan penuh harap
Sebuah bingkisan
hati yang mungkin akan tersimpan hingga waktu yang kan menjawabnya
Termenung dalam
rona indah sang mega,
Terjaga dalam
dinginnya malam, membeku dalam kekakuan asa
Harapku kian
jauh terbang membawa jiwaku bersamanya
Netraku tertaut
olehmu,
Entah esok,
esok, dan esoknya lagi, esok dan selanjutnya, selanjutnya lagi
Seterusnya,
hingga kau dalam pelukku,
Wahai ‘harapku’…
Terdiam dalam
kungkungan tetes air hujan,
Dibawah talas
mega yang terayun angin, dalam sayup-sayup gerimis senja
Ribuan butir
bayu bertaburan, sisanya memukulku untuk terus berlari
Yang lain
berteriak, bergemuruh agar kakiku jangan berhenti hingga harap kian nyata
Agar niscaya sebuah
mimpi, nyatanya sebuah harap dan impian.
Terayun jauh
kekhawatiranku, pada esok yang tak pasti
Meski gamang,
nafas ini masih terhembus
Kalbu tak
sejalan dengan logika
Asa tiada lagi
bergeming
Hai kalbuku,
cukup janganlah kian memupuk harap
Sungguh nyataku
tak sebanding
Yang ada hanya
kian menyisir pedih
Kelopak mata tak
bernyali bebaskan pandang
Kian putus asa
sang logika termenung dalam diam
Mencoba redamkan
luka sang kalbu,
Berkisah
alur-alur cerita quasi kehidupan
Meski
kebohongan, namun sang kalbu tak cukup memahami
Terasa begitu
nyata, senyum kalbu kian mengembang, desis angin kian deras
Terbang dalam
gambaran dan harap yang pernah terukir
Puaskah hati
dengan dunia palsumu?
Sudah cukup,
kini babak kesadaran telah dimulai
Netra harus
menjawab, meski hati kian terluka
Namun inilah
kehidupan, logika bertahta atas kebenarannya
Logika memahami
semua hal yang dijelaskan sang netra
Episode kali ini
mungkin kalbu hanya mampu teriris pedih dalam tangis,
Namun
dikehidupan selanjutnya mereka sama-sama akan saling memahami
Karena, episode
ini belumlah berakhir…
-Anik Astiyati-
Komentar
Posting Komentar