Berhentilah
Berhentilah
Berhentilah menarik hatiku dengan berbagai cara,
berhentilah menebar harap untuk asa dan kebahagiaan semu
Berhentilah datang dalam mimpiku, berhentilah menguji
hatiku dengan senyum manis yang membuatku semakin merasa sakit
Berhentilah hadir didepanku yang membuatku tak bisa
menafikkan rasaku
Berhentilah dengan tatapanmu yang tak biasa itu, karena
dengannya semakin sulit bagiku untuk menyembunyikan harapku
Semakin sulit bagiku untuk berhenti bermimpi, berhenti
menyukaimu, berhenti memikirkanmu
Berhentilah memanggilku seperti itu, karena akan
semakin sulit bagiku untuk tidak mengingatmu
Berhentilah bercerita pada yang lain bahwa kau
berharap, karena dengannya ibaku lebih mudah terpanggil
Berhentilah dan tunjukkan padaku bahwa ada yang lain
yang telah memiliki hatimu, berhentilah membuatku berharap banyak hal darimu…
Berhentilah dan pangkaslah dahan-dahan rasa yang
semakin tumbuh subur dalam hatiku
Berhentilah dan hancurkanlah hatiku dengan berbagai
cara
Berhentilah tersenyum dan luapkan segala kebencianmu
padaku
Agar semakin mudah bagiku untuk mengeluarkanmu dari
hatiku
Berhentilah bersenandung kecewa atas segala
pengabaianku
Janganlah membuat kecewaku terasa semakin dalam
Karena sesungguhnya aku tak ingin melakukan itu, tapi
aku harus berbohong
Berhentilah tertunduk menyesal atas perbedaan kita
Sesungguhnya aku tak mampu menahan air mataku diujung
ruang kamarku ketika memikirkannya
Suaramu, tertawamu, bahasa, dan tingkah lakumu yang
selalu berbeda membuatmu begitu berbeda dengan yang lain dalam hatiku
Kau ada diujung sana dengan duniamu, dengan rasa yang
sesungguhnya aku berharap selalu ada disana
Kau tertawa dengan segala kebahagiaanmu yang terkadang
tak mampu aku pahami, dengan sebuah kekhawatiran dalam hatiku
Kau berkata bahwa diriku menakutkan dengan segala
kepercayaan dan kepahamanku, entah takut seperti apa yang kau maksudkan
Mengapa jika kau tidak bermimpi, jika kau tidak
berjuang, jika kau tidak ingin aku bersamamu atas siapa diriku, dan bagaimana
diriku
Mengapa jika semua itu membuatmu putus asa, kau bahkan
tidak berhenti memanggil namaku
Kau bahkan tetap menunjukkan senyuman begitu manis
dihadapanku
Kau bahkan selalu hadir dihadapan netraku
Jika kau putus harapan dengan segala hal yang ada dalam
diriku
Janganlah membuatku berharap banyak akan dirimu
Jika kau tak ingin berjuang atas segala tunas-tunas
bahagia yang tumbuh
Maka pergilah, pergilah jauh diujung dunia dan akuilah
bahwa kau seorang pengecut
Setidaknya kau menyadari bahwa apa yang aku percaya,
apa yang aku kenakan sebagai identitas percayaku adalah sebuah kepahaman
tertinggi yang pernah ada dalam diriku
Sebuah kekekalan nyata yang mungkin tak akan pernah kau
pahami dan orang awam lain pahami sebelum kau, ataupun orang lain itu memasuki
duniaku
Berhentilah berdiri diujung sana dengan duniamu yang
menurutku kelam
Berhentilah mengisap asap kepahitan
Berhentilah bermain-main dengan dunia quasimu
Berhentilah menarik hatiku seperti itu, datang dan
jemputlah hatiku dalam duniaku
Berhentilah memanggil namaku, datanglah keduniaku maka
kau akan temukan segala kebahagiaan nyata dari sebuah rasa
Bukankah duniaku ini adalah sebuah istana indah dengan
segala hiasan luka kekekalan yang goresannya adalah bukti sebuah ketundukan
Bukankah kau pernah menapakinya sebelum ini, seharusnya
kembali kedunia semacam ini bukanlah hal sulit karena setidaknya kau pernah
menelusuri jalannya
Aku ada diujung duniaku, dan ketika kau masih ada
diujung duniamu, entah aku akan datang atau tidak jangan tanyakan hal itu
Jangan pula memanggil namaku dalam gelombang yang hanya
akan dipahami atas dua hati yang saling berharap
Karena dengannya aku akan mendengarnya, karena kau tahu
sesungguhnya aku begitu berharap
Meskipun terasa begitu sulit, tapi bagaimanapun
perjuanganmu sungguh aku menantikannya
Kehadiranmu diduniaku, aku menunggunya, entah
sebenarnya hal itu akan terjadi atau tidak
Senyuman atas sebuah ketundukan hamba, kelembutan iman
lebih aku harapkan darimu daripada senyuman harapmu padaku
Hadirlah dan jadilah seorang ikhwan suatu hari nanti,
datanglah jemput hatiku diujung duniaku yang mungkin saat ini begitu asing
bagimu
Hadirlah karena sesungguhnya aku begitu berharap, meski
seberapa besar sesungguhnya kau menyukai sebuah tantangan, dan mungkin saat ini
Tuhan tengah menantangmu
Meski sebenarnya seberapa besarkah niatanmu untuk
bersamaku, dan berhakkah aku menanyakannya
Pedulilah pada setiap huruf yang kutulis dari ujung
jauh hatiku
Pedulilah atas setiap detik waktu dimana aku
terpikirkan olehmu
Pedulilah atas setiap kesempatan aku mencarimu dari
ribuan kepala, dari ribuan peluang yang sesungguhnya begitu sedikit kesempatan
aku bisa menemukanmu
Dan itulah mengapa ketika aku menemukanmu, aku begitu
bahagia, senyuman mengiringiku sampai diujung hari
Pedulilah atas setiap kali aku memanggil namamu dalam
gelombang yang hanya akan dipahami oleh hati yang saling berharap
Pedulilah untuk setiap tetes kecewa yang pernah
membayangiku
Peduliah atas setiap ketakutanku atas dirimu pada hari
selanjutnya, bahwa aku akan menemukanmu atau tidak…
Pedulilah atas segala kebohongan yang aku katakan bahwa
aku tak menyukaimu
Pedulilah atas segala penafikkan ini
Pedulilah, pedulilah
Karena aku akan menunggu kau hadir dan menunjukkan
kepedulianmu diduniaku
Sampai batas akhir dimana aku harus benar-benar
menyerah atas semua hasrat ini, atas semua harap, dan dahan-dahan rasa dalam
hatiku
Atas ribuan bunga yang kau tebarkan dalam halaman
jiwaku
Komentar
Posting Komentar