Hujan
Januari datang lagi. Masih dengan rintiknya yang teduh. Taman kota Semarang nampak tak seramai biasanya. Maklum, ketika hujan meskipun hari libur, orang cenderung memilih duduk di rumah menikmati tayangan televisi dengan secangkir kopi panas. Di bawah pohon akasia, bangku cokelat itu nampak terisi seorang perempuan berpayung hijau.
"Iya halo, aku sudah di taman Na?', katanya melalui gadget pada seseorang.
Gerimis masih begitu setia menemani bumi. Butir-butir airnya perlahan namun tak jeda.
"Riii, ayo kita ke cafe di sebelah sana yuk?". kata seorang wanita lagi yang menghampiri perempuan pertama tadi.
"Di sini aja Na, aku tidak akan lama." kata wanita berpayung hijau mempersilahkan untuk duduk disampingnya.
"Jadi ada apa, kok tiba-tiba?"
"Aku bingung Na, segala sesuatunya nampak begitu rumit. Sepertinya dengan aku pergi semuanya akan kembali baik."
"Apa kamu yakin tidak akan menyesal nanti?"
"Aku tak tahu."
Sejenak, kemudian dia melanjutkan...
"Terakhir dia bercerita tentang rumah, tentang dunia yang ingin dia bangun, tentang pelangi yang ingin dia lukis?"
"Lalu?", tanya perempuan yang tadi mengajak ke kafe.
"Aku bahagia, tapi juga sedih. Bahagia karena berarti dia telah berpikir sangat jauh. Sedih karena, aku tak bisa membekukan waktu atau kalau tidak menarik waktu."
"Maksud kamu?"
"Dia sudah begitu yakin dengan masa depannya. Tapi bukankah takdir Allah terkadang tak sesuai dengan ekspektasi manusia?"
"Berarti kamu pergi karena kamu merasa tak yakin dengan dia?"
"Bukan Na. Bukan! Aku hanya sedih, aku takut kalau wanita yang akan menemani di rumahnya, bersama melukis pelanginya, ternyata bukan aku. Aku hanya takut, aku terlalu berani bermimpi, bahkan kemarin aku sempat bilang padanya, 'nanti kita buat ruang perpustakaan ya' dan juga 'jangan sampai susah air ya, aku nanti nggak bisa mencucikan bajumu'. Tapi Na... sejenak aku berpikir, benarkah semuanya akan terjadi. Aku hanya takut, mimpiku terwujud oleh orang lain Na. Aku takut mimpinya akan terwujud tapi tidak dengan diriku."
"Sabar Ra, kamu jangan sedih. Ketakutanmu bisa saja terjadi, tapi bisa juga tidak. Kita memang bukan penentu takdir Ra, tapi kita boleh bermimpi, kita boleh berharap. Tugas kita yang harus dilakukan adalah berdoa, agar kelak kenyataan yang terjadi adalah yang terbaik untuk semuanya. Bismillah aja Ra."
"Iya Na, kamu bener. Tapi khawatir ini membuatku ingin menormalkan segala sesuatunya. Agar aku tak terlalu tinggi bermimpi Na, biar semuanya normal saja. Kalau sudah lebih baik, aku akan segera kembali, atau..."
"Atau apa?"
"Atau aku mungkin akan kembali dengan membawa diriku yang tak lagi sama. Aku titip Nurma, bocah itu mengkhawatirkan kalau tak ada kakaknya."
"Iya Ra, kamu tenang aja. Dia akan aman di asrama."
"Makasih ya Luna..."
Sejenak gerimis berhenti, namun langit masih akrab dengan mendungnya. Wanita berpayung hijau kemudian berdiri dan perlahan meninggalkan temannya. Jejaknya beradu dengan genangan2 air jejak hujan. Angin masih membawa aroma petrikor yang khas, membuat banyak orang jatuh cinta dengan musim hujan.
Bekasi || 27 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar