Siapa Namamu?
Siapa Namamu?
Oleh : Zahranisa
Sudah
lama nampaknya analisis ini kulakukan. Sekitar satu setengah tahun yang lalu,
hati ini tergetar melihat sosok anggun serupanya. Aku masih ingat tepat 25
Agustus 2014. Sebelumnya aku tak pernah merasa penting dengan urusan rumah
sebelah karena memang tadinya rumah ini di huni oleh sekelompok laki-laki,
entah bagaimana ceritanya tahun ini nampaknya berganti penghuni menjadi
perempuan.
Beberapa
hari terlihat beberapa orang sibuk bergantian keluar masuk membawa banyak
barang ke rumah tersebut. Aku tak pernah berniat secara khusus mengamati, akan
tetapi rumah pamanku yang kutinggali ini kebetulan hanya berjarak beberapa
langkah saja dengan rumah tersebut, jadi mau tak mau kegiatan di rumah sebelah
dengan mudah terdeteksi dari penghuni rumah paman, termasuk aku. Aku tinggal
bersama paman Edi, bibi Melly, dan dua orang anaknya, Rio dan Raka. Rio masih
duduk di bangku SD sedangkan Raka di bangku menengah.
Keluarga
ini menerimaku dengan tangan terbuka sejak dua tahun lalu ketika aku memutuskan
untuk mengambil kuliah manajemen di kota kecil ini, sebelumnya ibuku tidak
setuju, katanya masih banyak kampus berkualitas lebih bagus di ibukota tempat
aku tinggal sebelumnya, aku diminta mendaftar kembali tahun depan. Tetapi aku tidak
mau membuang waktu satu tahunku hanya untuk menunggu, akhirnya bagaimanapun aku
menjelaskan bahwa keputusanku ini adalah yang terbaik, lagipula kampus yang
kupilih ini tidak seburuk perkiraan ibuku, bahkan masih masuk dalam jajaran 10
kampus terbaik di negeri ini. Sudahlah, akhirnya restu ibu dan ayahku pun dalam
genggaman, aku terbang menuju keheningan dari hiruk pikuk ibu kota. Ayahku
menitipkan aku ke adiknya yang menetap di kota tersebut, meskipun awalnya aku
menolak, tetapi apadaya, ayahlah yang berkuasa atas hidupku selama ini.
Awal
pertama kuliah di kampus ini banyak hal yang membuatku lebih dewasa. Hidup jauh
dari orang tua ternyata tak semudah yang ku bayangkan. Banyak hal terjadi harus
kutangguung sendiri, karena kebetulan aku adalah manusia super introvert
identik sekali dengan kacamata yang kukenakan ini. Untungnya aku memiliki teman
yang sangat mewadahi ketertutupanku ini, teman-teman yang selalu membuatku merasa
nyaman. Meskipun tak pernah kenal sebelumnya, tetapi berteman dengan mereka aku
merasakan kenyamanan seperti telah mengenal sejak ribuan tahun lalu sebelum
kami tercipta. Kita memiliki latarbelakang yang berbeda-beda tetapi sangat
akrab. Tiga orang anak rohis, satu kupu-kupu sepertiku dan satu lagi anak
gunung dan fotografer.
**
Hari
ini adalah hari pertama masuk semester lima. Pagi itu aku tak sengaja ketika
akan mengeluarkan motor dari gerbang, ternyata penghuni kost sebelah juga akan
berangkat. Kondisi jalan gang yang begitu sempit memaksaku harus menunggu
bergantian ketika akan melewati jalan tersebut. Akhirnya kubiarkan sepeda motor
matic berplat AD 4073 PP itu duluan memakai jalan, meskipun kami berpapasan
tetapi aku malas untuk menyapa orang asing, lagipula nampaknya dia
terburu-buru, dengan memakai masker seperti itu, aku tak akan tahu dia
tersenyum atau bahkan sedang bersedih.
Entah
apa yang direncanakan langit, ketika sore hari aku akan memasuki gerbang rumah
pamanku, perempuan itu berpapasan kembali denganku tetapi dia berlawanan arah
mungkin ada sedikit urusan untuk keluar. Kali ini dia tidak memakai masker,
tetapi sama saja aku tak berani menyapanya. Ketika sekilas menatapnya, hatiku
bergetar, keanggunannya menyekapku sedetik untuk tertaut menatapnya. Deg! Sayang sekali dia berlalu begitu
saja.
Itulah
awal analisisku dimulai. Sejak itu, aku mulai kepo dengan kegiatan rumah sebelah. Dahulu sehabis maghrib atau
isya’ aku asik dengan laptopku untuk menonton film atau bermain games, mulai
saat ini aku sedikit-sedikit menguping pembicaraan rumah sebelah yang
seringkali terdengar dari rumah pamanku.
Beberapa
kebiasaan yang kuketahui, sehabis maghrib dan sehabis subuh mereka
bersahut-sahutan mengaji. Begitu tentram ketika membayangkan masa kecilku saat
Ramadhan di desa nenekku dahulu, dan kondisi semacam itu seperti membawaku
kembali kesana. Ketika mulai jam setengah enam pagi mereka akan berganti-gantian
mengantri untuk mandi, bukan aku mengintip, tetapi suara mereka terdengar
sampai ke rumah paman, mereka seperti membuat nomor urut sendiri, sehabis si A
si C, habis itu baru si B atau D, begitulah mereka. Terkadang secara bergantian
mereka mengetuk kamar mandi dan memanggil penghuni kamar mandi dengan teriak
karena suara kran yang keras. Meskipun sehabis diketuk si A, si B akan mengetuk
kembali untuk bertanya siapa urutan mandi setelahnya. Aku membayangkan pasti
tak nyaman penghuni kamar mandi diketuk berkali-kali secara bergantian.
Sekitar
pukul delapan malam, mereka seringkali bercerita banyak hal, hanya beberapa
suara saja yang dapat aku dengar, yang memang berbicara dengan nada keras.
Terkadang gurauan mereka pun aku mendengarnya. Tak jarang aku ikut tertawa,
ketika mereka menceritakan teman atau dosen mereka, geli juga walaupun aku tak
mengenal mereka.
Aku
tak tahu persis berapa jumlah perempuan yang tinggal disana, tapi kuyakin lebih
dari delapan orang. Kulihat wajah berbeda-beda keluar masuk setiap hari. Ada
nama yang pernah kudengar dari pembicaraan mereka, Indah, Putri, Vinna, Zahra,
Nisa, Ega, dan mungkin ada lagi yang tak ku ingat.
Aku
tak pernah tahu siapa-siapa pemilik nama itu. Wajah yang mana yang memiliki
nama Zahra, atau Vinna atau yang lainnya. Awalnya aku tak pernah penasaran
hingga ketika sering berpapasan dengan sepeda motor berplat AD itu, manakah
nama yang cocok untuk menghiasi anggunnya pemilik itu. Semua nama terasa indah
menemani wajah ayunya.
Pernah
suatu ketika pagi hari pukul setengah enam, perempuan itu telah rapi bergegas
seperti terburu-buru. Aku tak pernah tahu apa yang dilakukannya. Pernah juga
kulihat dia mengenakan sebuah jaket beridentitas sebuah organisasi rohis
kampus. Satu hal yang tak pernah kulihat darinya adalah, tidak sekalipun aku
pernah melihatnya mengenakan celana. Sungguh anggun nian perempuan ini. Sudah
pasti dia adalah aktivis rohis kampus.
Aku
pernah bercerita dengan teman-temanku tetang analisisku ini. Tak kusangka
mereka menertawakanku habis-habisan. Mereka bilang aku konyol, nggak punya
kerjaan, dan yang paling parah mereka bilang tidak menyangka kalau aku suka
perempuan. Teman-temanku ini memang seringkali freak, tetapi bagiku merekalah yang paling asik diajak bercerita.
“Wah
ternyata lo suka cewek juga ya?” anak gunung mulai menghina.
“Hah,
Iyalah! Lo pikir selama ini gue naksir elo. Gila! Gue straight guys...”
“Hahhaaa...
ternyata di balik kacamatamu menyimpan banyak sudut pandang yang tak pernah aku
duga”, kali ini anak rohis angkat bicara.
“Iya,
coba sekali-kali kamu lepas kacamatamu, kali aja objek yang kamu lihat itu beda
kalo nggak pake kacamata”, ini giliran si kupu-kupu.
“Ahh...
udah udah, kalian ini nggak ngerti sih project penting. Percuma aja aku cerita.
Udah makan aja yuk”
**
Seperti
biasa pagi itu aku agak siang berangkat ngampus, ku tengok kanan kiri,
nampaknya rumah sebelah telah sepi, mungkin sudah berangkat semua, atau
beberapa masih tidur bagi yang kuliah siang, pikirku. Tiba-tiba ketika aku masih
berdiam memanasi mesin sepeda motorku kulihat dari spion perempuan itu baru
akan mengeluarkan motornya. Tak kusadari aku tersenyum kecil. Manis sekali,
batinku. Kulihat dari spion wajah itu terburu-buru menaiki sepeda motornya,
tiba-tiba...
Tiiiinnntttt....
Tiiinnnnttt...
Aku
lupa jalan gang ini begitu sempit harus bergantian, dan aku masih berdiam diri.
Malu sekali aku, akhirnya ku tancap gas meski sembari menutupi malu.
Ketika
sampai di kampus, ternyata dosen hari ini hanya memberi tugas dan tidak mengisi
satu materi pun. Seperti inilah dosen yang membuatku kesal. Ketika anak-anak
masih ribut membagi kelompok, aku bercerita dengan teman sebelahku tentang
kejadian tadi pagi.
“Haha...
bisa-bisanya kamu. Untung nggak kelihatan merah tuh muka” jawab Azmi, anak
Rohis kampus yang lumayan cerewet.
“Iyalah,
nggak tahu aku apa yang dipikirkan perempuan itu tadi. Pasti dia kesel
gara-gara aku ngalangin jalan. Eh bro, lo kan anak rohis, kasih tahu aku
caranya deketin perempuan kayak gitu gimana ya?”
“Apa?
Nggak salah? Perempuan kayak gitu nggak mungkin mau dideketin. Dia malah makin
menghindar kalo dideketin”
“Lha
terus harus gimana? MasyaAllah, bener-bener wanita idaman”
“Ya
nikah, lamar langsung ke orang tuanya”
“Apa?
Nikah? Gila, belum siap lah. Lho, bukannya ada yang ta’aruf ta’aruf itu ya?”
“Heh,
jangan atas namakan ta’aruf buat ajang pacaran terselubung. Ta’aruf itu
pengenalan pra nikah antara perempuan dan laki-laki dengan batas waktu tertentu.
Bukan buat pacaran cara islami, adanya pacaran dalam Islam cuma kalo udah sah
jadi suami istri.”
“Oh
gitu, paham paham” kataku yang sebenarnya sudah pernah mendengar hal itu dari
pamanku. Tetapi begitu lemahnya aku, perasaan itu begitu menggebu, memaksaku
ingin terus melihatnya, bahkan aku ingin dialah perempuan terakhir yang akan
menghabiskan waktu bersamaku di sisa-sisa hidupku, dialah orang yang tepat.
Semenjak
aku berteman dengan anak-anak rohis kampus itu pengetahuanku tentang agama pun
semakin bertambah. Awalnya aku tak tahu kalau ternyata laki-laki lebih utama untuk
melakukan sholat di masjid, beberapa akhir ini aku mencoba menjalankan setiap
sholat fardhu di masjid. Kata temanku, sesuai rumus 24:26, QS An-Nur ayat 26,
laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan-perempuan yang baik pula.
Perempuan
bermotor plat AD itu benar-benar menginspirasiku. Perempuan yang baik
sepertinya tentu akan mendapatkan pasangan yang sebaik dia pula. Inilah saatnya
untukku memantaskan diri, bukan malah pusing bagaimana cara untuk mendekatinya.
Ada hal yang begitu indah ketika hidayah itu perlahan merasuk dalam qalbuku.
Semakin kesini aku semakin sadar, bahwa apapun yang terjadi nanti tentu saja
semua telah di skenario dengan baik oleh Allah. Aku memutuskan untuk berhenti
melanjutkan analisis aktivitas kost sebelah. Aku tahu, siapapun nanti yang
menjadi masa depanku kelak, semoga sebaik dan secantik perempuan itu pula.
Jikalah bukan dia, semoga diberi yang lebih baik darinya.
Pada
awalnya karena melihat intensitas ibadahku yang semakin membaik, kawanku anak
rohis mengajakku untuk bergabung ikut organisasi rohis kampus. Akan tetapi,
dengan halus coba kujelaskan bahwa bukannya aku tak ingin tetapi aku sudah
berjanji kepada orang tua, aku akan lulus dengan cepat setelah itu aku akan
melanjutkan S2 ke luar negeri, aku harus membuktikan bahwa kuliahku di kota
kecil ini bukanlah pilihan yang salah. Syukurlah temanku mengerti, dia justru
mendukung penuh ambisiku itu. Terlihat sekali ketika aku membuat ujian skripsi
mereka mati-matian mencarikan objek penelitian, menemaniku ketika harus melakukan
penelitian ke daerah pelosok berminggu-minggu. Tak luput juga anak gunung dan
anak kupu-kupu ikut serta. Mereka adalah saudara-saudaraku di kota persinggahan
ini.
Tibalah
waktu yang di nantikan selama ini. Hari ini adalah hari wisudaku, kukabarkan
bahwa aku lulus dengan predikat memuaskan plus ikut percepatan. Betapa
bahagianya orang tuaku, mereka terbang menuju kota ini. Beberapa jamuan meriah
dari tante di sediakan.
“Selamat
ya nak ya, Mama bahagia dengan semua yang kamu capai. Semangat terus sayang” kata
ibuku sembari memeluk dan menciumku.
“Iya
Ma, tentu saja ini semua karena do’a Mama dan Papa. Aku lah yang seharusnya
berterima kasih”
Setelah
acara selesai, sebenarnya ibuku menyuruhku untuk langsung kembali ke kota
kelahiranku. Tetapi masih ada beberapa hal yang harus ku urus terkait
pendaftaranku lanjut studi S2, akhirnya satu hari setelah wisudaku mereka
kembali terlebih dahulu.
Ada
perasaan bahagia menyelimutiku, namun tak ku pungkiri perasaan khawatir itu
sesekali hadir dalam lintasan pikiran. Betapa sudah ku coba untuk melupakan
perempuan bermotor plat AD itu. Aku bertekad tak ingin memikirkannya. Aku
mencoba memperbaiki iman dengan menambah intensitas ibadahku, tetapi tetap saja
imanku masih begitu lemah menahan perasaan manusiawi ini. Ketertarikanku
padanya tak juga mereda. Oh Tuhan, apa yang salah dengan semua ini. Sangat ku
hafal suara motornya, terkadang dengan tak sengaja aku melihatnya dari lantai
dua rumah paman ketika aku bermain gitar, dia sedang melintas akan pergi.
Sungguh betapa menyakitkannya perasaan ini. Kelulusanku adalah kebahagiaan,
tetapi kepergianku dari kota ini adalah luka yang harus kutanggung sendiri di
balik setiap senyumku.
Tercatat
sebuah hari yang menyusul kebahagiaan selanjutnya. Tepat hari Jum’at aku diterima
beasiswa S2 di sebuah perguruan tinggi terkemuka di London, UK. Terdengar isak
haru ibuku di balik telepon, sungguh sebenarnya aku ingin memeluknya karena
kebahagiaan ini. Sembari menunggu hari keberangkatan, yaitu enam bulan lagi,
Ibuku menyuruhku untuk menunggu di rumah. Aku pun menyetujuinya.
Satu
hari sebelum masa kepulanganku, aku dibantu Rio dan Raka membereskan
barang-barang dan merapikan kamarku. Masih ada pikiran menggelayut dan seperti
mengejar hatiku, mendesakku untuk menemui perempuan bermotor plat AD. Tapi
apapun yang terjadi aku harus menyelisihi hatiku. Aku masih begitu lemah aku
benar-benar ingin tahu meskipun hanya sebait namanya. Akhirnya pagi hari
sekitar pukul enam, kulihat seorang perempuan keluar dari rumah sebelah,
barangkali bisa kutanya. Aku memberanikan diri bertekad bertanya padanya,
“Emm,
permisi Mbak. Maaf sebelumnya, saya mau tanya teman Mbak yang bersepeda motor
plat AD 4073 PP namanya siapa ya?” kataku sambil ragu-ragu.
“Wadduh,
ada apa mas, tidak ada masalah apa-apa kan?” katanya justru dikira ada masalah
serius.
“Eh,
bukan-bukan. Jadi gini Mbak, ini adalah hari terakhir saya berada di sini
setelah tiga setengah tahun yang lalu. Sekarang saya akan kembali ke asal saya
di ibu kota. Tapi sudah sejak lama saya ingin tahu nama teman Mbak itu, hanya
nama saja, apa boleh? Eh, tapi jangan bilang-bilang ya, tolong, saya malu”,
kataku berterus terang kepadanya.
“Oh,
gitu. Namanya Zahra Nur Annisa, di panggilnya Mbak Zahra” katanya sambil
berpikir, barangkali dia menimbang apakah tindakannya salah atau betul.
“Boleh
ditulis di sini”, kataku sambil menyodorkan sebuah bolpen dan buku notes kecil
yang telah ku buka tepat di kertas yang kosong.
“Oh
iya boleh, boleh.”
Hari
itu juga, aku diantar ke bandara oleh paman, dengan berbekal satu tas carrier dan satu tas slempang aku
melambaikan tangan kepada paman. Aku sangat berterimakasih atas kebaikannya
selama ini.
Hari
berganti, fajar oleh senja, malam oleh siang. Ada hampa yang menyelimuti
hatinya. Tetapi inilah hidup, semuanya seiring berganti bersama pasir waktu
yang meluruh meninggalkan satu ruang mengisi ruang lainnya.
**
Hari-hari
kuliah di negeri asing awalnya mengejutkan. Mulai dari kebiasaan yang berbeda,
adat, dan bahkan dari cara bersosialisasi pun sangat berbeda. Meskipun telah
ada pelatihan tentang pemahaman budaya negeri asing ini, tak kusangka aku
benar-benar menghadapinya.
Beberapa
waktu semua mulai lancar, aku perlahan bisa membiasakan diri. Disana aku
mendapatkan teman dari berbagai negara, ada dari Jepang, China, Turki, Belanda
dan bahkan Malaysia. Indonesia sendiri ada juga tetapi berbeda fakultas, hanya
beberapa kali aku bertemu dengannya. Aku satu-satunya mahasiswa Indonesia yang
melanjutkan di jurusan ini.
Rutinitasku
yang begitu padat, terkadang aku lupa makan atau jarang mengabari rumah,
seringkali telepon genggam kutinggalkan begitu saja. Berkali-kali ibuku marah
atas sikapku ini. Katanya kamu jangan lupa untuk bergaul dengan teman-teman
dari Indonesia juga, dia takut aku terjerumus dalam budaya barat yang serba tak
sejalan dengan budaya timur, katanya. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung
dengan PPI-UK atau Persatuan Pelajar Indonesia-United Kingdom. Beberapa kali
aku mengikuti kegiatannya. Sangat asik sekali bertemu saudara setanah air di
negeri asing.
Aku
masih ingat malam itu ada acara Lancaster
Indonesian Cultural Night. Sebelum acara, aku diperkenalkan oleh ketua organisasi
dengan teman-teman lain yang telah bergabung sebelumnya. Setelah aku
memperkenalkan diri, satu-satu dari mereka memperkenalkan diri padaku,
laki-laki dan perempuan. Malam itu memang tak banyak yang datang, hanya sekitar
dua puluh lima orang, aku menyalami satu persatu, tapi ada satu perempuan yang
tak mau ku ajak bersalaman. Dia tersenyum sembari mempertemukan kedua telapak
tangan di depan mukanya sembari merunduk, dia menyebut namanya, Zahra Nur
Annisa. Bukan main aku begitu kaget. Tak salah lagi, itu adalah perempuan yang
sama.
Perempuan
bermotor plat AD itu, ternyata Allah mempertemukanku kembali dengannya di sini,
di tempat yang jauh. Meski aku tak pernah tahu namamu sebelumnya, aku tak
pernah bisa berkenalan denganmu. Tetapi aku bersyukur, karena dengan batasan
yang pernah Allah berikan, dari kita saling menjaga. Batasan itulah yang
memberiku kesempatan untuk terus belajar menyeimbangimu. Sehingga aku tahu,
perempuan sepertimu bukanlah untuk di jadikan pacar, tetapi adalah pilihan
terbaik untuk mengakhirkan kesendirianku di bawah restu Illahi.
~TAMAT~
Komentar
Posting Komentar