A kind of being uniq


Seringkali dari kita menyesalkan banyak hal yang tidak maksimal. Ketika dalam dunia tulis menulis, kamu berpikir kamu harus menjadi yang terbaik, tetapi kamu tidak pernah merasa baik karena ternyata ada temanmu yang lebih baik dan menguasai medan dengan baik. Setelah itu kamu berpikir untuk hal lain, barangkali bakatmu ada di bidang desain, kamu pun mencoba banyak hal, mencoba menjadi yang terbaik, tetapi sayangnya kamu melihat ternyata disana ada yang lebih baik darimu, perhatian banyak orang selalu tertuju pada karyanya. Kamu pun menyesal dengan kemampuanmu sendiri, dan berpikir bahwa kamu tak cukup baik dalam hal tersebut.

Penyesalanmu kemudian membuatmu ingin berpindah ke fokus lain. Dalam hal akademik barangkali kamu bisa menjadi yang terbaik, akhirnya kamu pun mencoba untuk belajar lebih dari biasanya, mencoba mengerjakan tugas lebih rajin. Tetapi semua tak berhenti disitu, kamu pun akhirnya menemukan orang lain yang menyaingimu. Dia ternyata berpikir lebih logis, mengerjakan setiap tugas dengan lebih cepat darimu. Dan lagi-lagi kamu pun menyesalkan hal ini. Kamu berpikir kamu tak sebaik itu.

Sampai pada titik ketika kamu berpikir bahwa dirimu tak berguna, kamu tak ada artinya. Kamu merasa seolah-olah dunia berakhir dan tak berpihak padamu. Tidak ada satu bidang pun yang menerima dan membuatmu merasa paling baik.

Tidakkah kamu berpikir apabila orang-orang yang kamu anggap paling baik setiap bidangnya akan melakukan hal sempurna pada bidang yang bukan keahliannya? Tentu saja kemungkinan besar tidak, kecuali memang dia mempunyai keahlian lain. Orang yang sangat baik dalam hal tulis menulis belum tentu sama baiknya untuk melakukan desain. Atau barangkali orang yang mempunyai kecerdasan dalam hal akademik belum tentu sama baiknya untuk membuat desain atau menulis.

Kamu tahu mengapa kamu tak sebaik mereka? Karena kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri, karena kamu hanya berpikir dari apa yang kamu lihat bukan pada apa yang datang dari dalam dirimu sendiri. Setiap manusia unik dengan kekhususannya masing-masing.

Lakukan yang terbaik pada apa yang kamu sukai, pada bidang dimana kamu merasa nyaman di dalamnya. Tidak mungkin kamu akan menerbangkan ikan ke langit bukan? Ya, kamu tahu itu.

Percayalah pada masanya nanti kamu akan menjadi yang terbaik pada apa yang menjadi keahlianmu. Semua hanya butuh proses, butuh kesetiaan dan komitmen. Ketika kamu merasa jatuh pada satu bidang, jangan langsung berpikir bahwa kamu tidak cocok dalam bidang tersebut. Ingat, kamu diciptakan pun dengan proses, kamu berkembang dengan proses, bumi tercipta dengan proses. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan proses, maka berdamailah dengan proses. Suatu hari kamu akan menjadi pemain dalam ungkapan ’the right man on the right place’.

Yakinlah bahwa dirimu unik, hargai setiap waktu yang dirimu lalui, setiap luka yang kamu tahan. Setiap jatuh dan bangkitmu. Terkadang orang lain berpendapat hanya dari kacamata masing-masing yang seringkali hanya melihat pada permukaan. Lidah memang begitu ringan, lebih ringan dari debu yang diterpa angin.

Percayalah pada dirimu. Percayalah pada hatimu, karena seringali Tuhan berbisik melalui hati yang bersih. Renungilah setiap hening. Yakinkan bahwa kau telah berada pada jalan yang benar.
Jadilah dirimu sendiri, karena kamu unik. Kamu unik dan tak akan ada yang menggantikanmu ketika kamu tba-tiba menghilang. Berlarilah dengan langkah yang kamu yakini.

Hebatlah dengan menjadi dirimu sendiri bukan menjadikan dirimu seperti orang hebat di luar sana.

Tembalang, Semarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta