WAKTU
WAKTU
Jika setiap waktumu
selalu dihitung.
Tidak ada lagi
detik yang kan terbuang
Jika saja ada yang
dengan lantang setiap saat menghitung mundur,
Setiap sekon umur
yang kau punya,
Jika tepat didepan
korneamu ada sebuah pendulum waktu yang menggema hingga keruang hatimu
Memaksamu tak ingin
berhenti berlari
Masihkan manusia
akan saling melukai?
Atau bahkan saling
membunuh berebut detik?
Sayangnya tak ada
satupun jenderal atau panglima perang, atau siapapun yang merasa paling hebat,
untuk membunuh waktu.
Mata-mata tajam,
piciknya sebuah kekikiran, ketidak jujuran, tamak!
Tabiat-tabiat setan
yang bernaung dalam diri manusia, dan kegelapan dari kejahatan manapun
Tak kan pernah
mampu lumpuhkan waktu.
Mereka hanya
melukainya.
Menodai indahnya
matahari yang terbit dan tenggelam.
Tersungkur sang
rembulan dalam sapaan pucat saksikan tangan-tangan dan intelektual yang saling
berselisih, kaki-kaki bergerilya untuk menusuk punggung sesama.
Surga bukan disini
kawan,
Ini adalah gunung
berapi, bukan hangat sinar mentari…
Tengoklah disana
wajah pucat pasi, cokelat tua, rona yang paling indah yang mereka miliki.
Lihat manusia yang
kau anggap kotor, baju rombeng lusuh yang tak nampak lagi warna aslinya, celana
warisan turun temurun entah generasi keberapa, menggendong sebuah karung putih
ukuran raksasa.
Berjalan telusuri
jalan-jalan sempit, mencari tempat paling kotor disudut kota. Hatimu akan bergeming
dari keangkuhan, jika kau selami mimik mereka.
Apakah detik ini
mereka bahagia? Siapa yang peduli!
Tak mudah membahasakan
kebahagiaan.
Bukan penghormatan
dari kegengsian yang mereka cari, layaknya kita.
Wajah hari telah
mengajari,
Saat kau terlambat
bangun, kau kecewa tak dapat menyambut matahari membuka cerita.
Satu episode itu,
jelas kau tak akan mendapatkan awal yang indah.
Namun, ketika senja
menjelang, berlarilah keujung kota, berjalanlah dikaki lembah.
Diujung sana, tepat
dideretan gunung bermukim, sisa-sisa cahaya siang menerpa dihamparan hijau
permadaninya, memantulkan sinar kemilau. Di atapnya, saksikan kelebat putih,
atau gulung-gulungan awan yang menaungi, bersahabat merah saga yang semakin
jelas. Hangat yang melebur terganti dingin yang mendominasi. Sebuah pesona
cantik dari bumi yang tak mudah dibahasakan.
Hari itu, mungkin
kau tidak mendapatkan indahnya fajar, hangatnya sapaan mentari. Namun, kau menemani
matahari lepas dari ribaan siang, merasakan transformasi hangat dan dingin dari
senja. Bukan hanya fajar, senjapun indah kawan…
Denting masihpun
mencari matahari,
Andaisaja kau tahu
seberapa lama kau akan disini
Jikasaja analisismu
tepat, kapan kau akan temui akhir dari ceritamu
Orang-orang yang
kau sayangi, hingga kapan kau akan bisa melihatnya
Kata terakhir apa
yang kau dengar darinya
Tidak ada yang
tahu,
Kapan waktu akan
mengkhianatimu!
Komentar
Posting Komentar