Datang, kemudian pergi...
Datang, kemudian pergi…
Pernahkan
merasa kecewa? Pernahkah merasa sakit hati? Terluka atau bahkan frustasi
ditinggalkan seseorang? Ketika seseorang yang memiliki arti pergi dari
kehidupan, terkadang ada secercah hal yang berubah dari kehidupan kita. Baik
itu nampak nyata atau hanya dapat kita rasakan.
Kehilangan
kerabat, saudara, atau sahabat dekat sangat nyata nampak ketiadaan mereka.
Orang yang setiap hari kau dapati keberadaannya, sapaan, cara mereka berjalan,
bagaimana mereka tersenyum, logat, cara mereka marah, kebiasaan-kebiasaan
mereka. Tiba-tiba semua itu hilang dari kehidupan kita. Meski sebelumnya kamu
begitu membencinya, tiba-tiba semua kebaikan darinya tertonjol keluar membuka
mata batinmu, banyak penyesalan yang kamu keluhkan, terasa menyesakkan dan kamu
pun ingin mencuri pemutar waktu dari Doraemon, mengembalikan masa-masa dimana kamu
menyia-nyiakan saat masih bersamanya, memperbaiki kesalahan yang kamu lakukan.
Tapi sayangnya Doraemon hanyalah fiksi, apalagi pemutar waktu, seputar
imajinasi manusia yang ter-setting begitu
nyata.
Tapi
sekarang bagaimana ketika kamu merasa kehilangan seseorang yang bahkan raut
wajahnya hanya kamu dapati dalam gambar, atau kamu menemukannya dalam kehidupan
nyata tapi hanya beberapa kali, dan tak nampak lagi sekarang? Kehilangan
seperti ini adalah jenis kehilangan yang hanya dapat kita rasakan. Orang-orang
disekitar kita tidak tahu persis bahwa kita kehilangan seseorang, namun dari
lubuk hati, jauh diujung yang paling dalam ada hal yang pergi, membawa sebagian
kisah hidupmu.
Terkadang
boleh saja merasa tak adil, mengapa dipertemukan dengan seseorang yang tak
pernah dapat kau miliki, tak pernah dapat kau rasai keberadaannya kecuali dalam
hati dan pikiranmu, tapi netramu tak pernah mendapatkan haknya. Namun, bukankah
setiap hal yang masuk dalam kehidupan kita selalu memberikan cerita yang indah
meskipun menyakitkan. Kamu pernah disakiti, tak lebih hal itu hanyalah untuk melatih
hatimu untuk lebih tegar. Pernah kamu dikecewakan, atau ditinggal tanpa sepatah
katapun? Tidak lain karena ketegaranmu sedang diuji. Tanpa semua itu hatimu
tidak akan pernah tahu bagaimana cara bangkit dari keterpurukan, bagaimana
untuk tidak menangis meski ada duri yang menancap dalam, dengannya hatimu akan
lebih tahu bagaimana seharusnya bersikap.
Jadi
jelas, kehidupan sebenarnya tak pernah menjanjikan kebohongan. Semua hal pasti
terjawab, seperti pastinya malam setelah siang, seperti pastinya siang dengan
mataharinya, dan malam dengan kegelapannya. Begitupun kehadiran dan kepergian.
Tak pernah disangkal, detik ini senyumannya, bahasa dan sikapnya kau miliki,
namun ada kalanya kau harus kehilangan semua hal itu. Untuk orang-orang baru
yang kau temukan, janganlah terlalu erat melekatkan hatimu padanya, hingga kau
merasa tak punya hati ketika jauh darinya, karena ketika dia benar-benar pergi
darimu, maka kau akan kehilangan dirimu sendiri. Disaat dunia menuntutmu untuk
tetap mengikuti putarannya, tapi kau tak punya apa-apa selain raga yang tak
berhati, hal itu akan sangat menyakitkan. Sadarilah tidak ada yang benar-benar
kau miliki, semua hal pada akhirnya akan kembali keribaan Illahi, entah dia
menjalani kehidupan lain, atau menjalani kehidupan yang sama denganmu namun
tanpa dirimu, dan kau pun tak pernah lagi mendapatinya.

Komentar
Posting Komentar