Sebuah Tanya
Sebuah Tanya
Benci bertahta dalam jiwaku
Tatkala melihatmu, entah apapun aku
membencinya
Santunmu bahkan tak mampu hapus benciku
Bahkan kacamata kebaikan orang lain, tidak
sedikitpun menggeser antipatiku
Tak kusadari meski kuhindari, ternyata kita berjalan
dijalan yang sama
Parahnya jalan kita beriringan,
Hijab Allah terlalu tebal menutupi dan memberi
sekat hingga tidak kuperkirakan sebelumnya
Hingga kebencianku menertawakan pada akhirnya
Seperti tak ada ampun bagiku
Mungkin kau harus membayar donat yang begitu
enak ketika kau makan donat, dengan bayaran harga yang tertera dibarcodenya
Namun, tidak begitu dengan benciku, bahkan
kurs apa yang ia tawarkan,
Aku pun tak mengetahuinya, entah Rupiah atau
Dollar
Semua itu begitu saja harus kubayarkan tanpa
aku bisa menimbang sebelumnya
Hingga pertemuan yang bisa dibilang tidak
seharusnya terjadi, tanpa sengaja ketika tatapan matamu kutangkap dengan
mataku,
Sebentar memang, mungkin hanya seper sekian
detik
Tapi entah kenapa sejak itulah
Kucari kebencian itu namun tak kutemukan lagi,
Bersembunyikah? Sedang bermainkah?
Atau dia lari terbirit-birit diusir oleh
perasaan lain yang berkuasa?
Tak mungkin menyalahkan waktu dan ruang
Ketika kau hanya bisa berada disatu jalan, dan
tak ada jalan lain selain kesalahan,
Jalan untuk terus meniti waktu, mengisi ruang
jiwa
Kemudian dijalan itulah dihadapkan pada
pertemuan,
Pertemuan yang bukan hanya satu kali
Bagaimana mungkin bisa dinafikkan
Bahwa semua terjadi
Bagaimana mungkin benci itu tidak terusir
ketika angkuhmu mulai meluruh
Bodohnya kau tak tahu cara menebas tunas-tunas
kekaguman
Haruskah kucari jalan lain untuk menghindar,
Haruskah ku berpetualang mencari jalan setapak
baru? Tidak ada kuasaku…
Semak terlalu rimbun dijalanan besar ini.
Nyaliku masih terlalu ciut menebas belukar,
Kutangguhkan semuanya
Mungkinkah jalan lain akan sampai pada tujuan
yang sama? Atau lebih cepat untuk samapi kesana? Jangan bilang akan lebih
lambat!
Aku tak suka tanda-tanda ini.
Kulihat jauh jalan panjang ini, sampai batas
mataku, kutafsirkan masamu begitupun masaku masih cukup lama
Terlalu panjang untuk dapat mengatur gerak
hati yang bahkan satu detik pun dapat berganti.
Berdosakah jika tak ada lagi benci?
Salahkah jika rasa itu tergantikan?
Sedikitpun tak ada niatan meracuni sucinya jiwamu.
Bahkan merusaknya, malahan aku tak ingin hal
itu terjadi.
Banggaku menggeliat melihatmu berdiri diantara
mereka, bahasamu layak motivator hebat, piawai menyandra perhatian mereka.
Tapi…
Dari ribuan itu, satu hal yang kutakutkan,
‘pengharapan’
Miris ketika menyadari pengharapan itu
menghipnotisku dalam alamnya.
Bahkan samurai terhebatku pun tak mampu
menangkisnya.
Kau tahu kenapa?
Entah bagaimana banyak hal terjadi dalam
hidupku.
Aku punya sebuah harta karun yang tersimpan
dalam brankas diriku
Yang ketika hal itu sudah bekerja, alam
semesta akan bekerja sama dengannya,
Semacam sebuah konsolidasi.
Harta karunku punya hubungan yang baik dengan
angin malam, dinginnya pagi sebelum fajar, butiran-butiran udara dan juga
gelombang-gelombang yang tak tertangkap netra.
Gelombang yang lebih hebat dari gelombang
komunikasi telepon dan internet.
Gelombang yang ini tercipta dari sebuah
kekuasaan yang tak terbantahkan.
Gelombang ini bekerjapun atas izinNya dan
dibawah kendali takdirNya.
Harap dalam hati dan Percaya dalam pikiran
adalah ahrta karunku
Dua hal ini bekerja lewat logika da intuisi,
yang ketika berlari menuju Allah, cepatnya melebihi sms yang kau kirim kepada
temanmu.
Entah pada akhirnya Allah akan setuju atau
tidak, namun yang kutahu harap inipun pangkalnya dari Allah.
Bukan aku menyalahkan atau alibi, namun
keterbatasankulah yang mengakuinya.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika harapku
menarik energi semesta untuk menyampaikan semua kebenaran ini pada sebuah titik
yang kuharapkan
Tidka ada teknologi apapun yang melebihi
teknologi Allah ini.
Aku takut ketika gelombang otakku berpancar
kuat menembus dinding batas hingga mencapai gelombang otaknya,
Dan banyak data otakku mencemari gelombang
otaknya.
Kuharap hijab Allah akan selalu melindunginya
dan melindungiku
Karena pada akhirnya bulanpun tahu kemana dia
akan tenggelam
Dan tidak ada yang pernah tahu apakah esok
matahari aka terbit ditimur atau tidak.
Tidak ada yang pernah tahu dimanakah hati ini
tersematkan pada akhirnya.
#1 November 2014
Komentar
Posting Komentar