Kesadaran Utuh


Kesadaran Utuh


Memang bahagia disaat setiap tawamu ada tawa lain yang menyambutnya

Memang menyenangkan ketika setiap kebahagiaanmu dapat dibagi

Memang melegakan disaat lukamu ada obat setidaknya untuk meredakan pedihnya

Memang menyejukkan jika setiap amarahmu meredup oleh bisikkan-bisikan lembut disampingmu

Gulungan awan terlihat semakin berdimensi, hamburan rintik hujan adalah taburan bunga dimusim gugur, hembusan udara seperti atmosfer ketika pertama kali tercipta

Cahaya siang dengan sorot sinarnya merambat diantara dahan-dahan ranum. Menghangatkan.

Terjalnya jalan tidak akan terlihat begitu menyedihkan ketika setiap jatuhmu karenanya, ada tangan yang selalu siap membangunkan, menarikmu kembali berjalan.

Lorong begitu gelap terasa bukan sebuah analogi kematian seperti ingin menarikmu selamanya tak akan kembali, karena disana ada teriakan yang selalu menyadarkan bahwa lorong itu hanyalah gelapnya malam yang akan usai ketika pagi tiba.

Tawamu memecah menyatu dengan tawa lain disampingmu, berpadu dalam perasaan magis yang hanya para pemilik tawa itulah pemahamnya.

Silih waktu membawamu, menarikmu bersama alir pasir yang tak berjeda, memaksamu menyadari bahwa kau adalah hal penting baginya. Entah kau berharap atau tidak sebelumnya.

Tidak ada lagi takut bertingkah, karena setahumu akan ada maaf setelahnya. Tak peduli ribuan, bahkan ketika jutaan orang meneriakkan bahwa kau begitu tidak penting, tidak berarti, namun hal itu tidak lagi berarti karena disana ada satu seruan yang lebih keras menggema dalam hati, memahamkan dengan rentetan gelombang ultrasonik bahwa kau begitu penting dan berarti baginya.

Dikala saling memberi bukan sebuah investasi besar merugikan, bukan lagi agar setiap pemberianmu akan diganti ketika kau membutuhkan, bukan tentang pengharapan bantuan ketika lereng-lereng itu menunjukkan celah-celah sempitnya. Bukan lagi tentang setiap pemberianmu adalah hutang, bukan lagi tentang apa yang kau ingin minta darinya, namun tentang seberapa kau ingin memberinya, banyak hal.

Memang mengkhawatirkan…

Memang melenakan…

Harusnya kau tidak meleburkan diri, meski tawamu menyatu bersamanya

Harusnya kau tidak mengaitkan kail yang membawa energimu ikut bersamanya

Pasir waktu tidaklah berjeda, alirannya ditarik kuat oleh gravitasi. Tidak akan berhenti hingga kaca pelindungnya pecah, hingga matahari telah mengingkari janjinya.

Hatimu begitu tertusuk, dan tak akan lagi ada yang akan mencabut durinya, memberi obat untuk meredakannya.

Tiba-tiba tanpa komando pikiranmu dibalikkan, kesadaranmu dipaksa untuk berputar arah. Disaat teriakan orang-orang itu terasa begitu lebih nyata karena seruan yang pernah kau anggap lebih nyata yang mengalir dari gelombang ultrasonik itu telah meredup. Tidak terlihat lagi tanda-tanda meski hanya sebatas kicau, sebersit satu gelombang pun. Agar kecewamu tidaklah begitu menenggelamkan harapanmu.

Sayangnya begitu terlambat untuk mencegahnya, perasaan yang pernah menyatu itu, hasrat dan kebahagiaan berbagi itu telah lusuh oleh sentuhan-sentuhan ego.

Ketika kau membuka pintu dunia yang sebelumnya tak kau lihat, ternyata diluar sana banyak tepuk tangan riuh seolah dunia tak pernah mengenal kata sepi sejak pertama tercipta. Diujung sana kau lihat sebuah siluet berdiri tegak, mengumbar senyum diantara milyaran tepuk tangan itu. Tergambar aura bahagia menerima tepuk tangan yang membumbungkan asanya.

Sorot kilatan cahaya kamera menjelaskan padamu, bahwa yang kau anggap siluet itu tidak lain tidak bukan adalah pemancar gelombang yang pernah meneriakkan padamu bahwa kau begitu penting baginya. Banyak hal ingin dia lakukan agar dari tebing-tebing itu selalu teerpantul gema suara tawa kalian yang menyatu. Sontak, seolah jam pasir telah pecah, waktu terhenti, dan kau urung untuk menyadarinya.

Ternyata sebuah kesadaran yang usang harus kau akui bahwa dunia ini penuh dengan keegoisan, meski sebenarnya kau tidak tahu hal itu benar atau hanya pembenaran dari keegoisanmu sendiri. Kau tidak lagi penting, karena yang mengganggapmu penting telah menjadi penting. Bagi jabatan, bagi halusinasi dunia, bagi banyak hal yang sebelumya tidak pernah kau duga keberadaannya. Bahkan ketika mendengar tentangnya kau hampir tidak percaya bahwa sentuhan ke-egoisan mampu melusuhkan tanda arti permata tawa yang telah menyatu. Meski untuk permata yang terbentuknya memakan waktu lebih lama dari sekadar iming-iming jabatan, tanggungan. Menyedihkan bukan! Terpecah dalam sebuah diversitas tiba-tiba.

Ternyata kau hitung mundur waktu, kau harus tersadar dikala kau berbagi, dikala kau menerima, hal-hal yang kau bagi telah habis, bahkan defisit untuk sekadar membayar sebuah pertolongan yang kau butuhkan.

Setidaknya disana masih ada sisa-sisa semangat yang tak kau kaitkan padanya, hiduplah seorang diri dengan keberartian yang kau anggap sendiri. Kau penting bagi dirimu sendiri, entah ribuan, bahkan satu orang penting bagimu tidak lagi menjelaskan bahwa kau juga penting baginya. Tersenyumlah untuk roda waktu, untuk pasir-pasir yang rela terus mengalir meski dunia ini indah atau tidak baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta