Postingan

Seruan anak gembala

Seruan anak gembala Yang terhormat, wahai pimpinan-pimpinan negeri. Yang terhormat, Bapak dan Ibu yang duduk dikursi merah nan empuk. Saya datang dari penghujung negeri yang kita cintai ini. Negeri gemah ripah loh jinawi. Saya bangga menjadi warga negara Indonesia, saya bangga menjadi bagian dari butiran-butiran asa yang selalu mengawang jauh, membumbung ke angkasa terbang bersama desiran-desiran angin. Merah darah muda-mudi menyatu, putihnya harapan dan niat jiwa menjadi penyongsong masa depan yang gemilang, INDONESIA. Saya datang bersama suara ribuan rakyat yang hanya menggema dihati mereka, dan tak mampu keluar dari mulut, apalagi sampai terdengar oleh insan yang bernyawa. Hanya tertunduk pasrah dengan keputusan kaum-kaum wakil yang tak sepenuhnya memahami mereka. “Saya rakyat kecil, tak bisa usul, apalagi protes.”, kata-kata keluh yang terdengar begitu pilu. Mata polos yang memandang rentetan gedung-gedung tinggi menjulang, namun, tanpa pernah berani berharap menikm...

Keseimbangan

Kehidupan ini adalah keseimbangan… Semua unsur dalam semesta bekerja sama untuk menjaga keseimbangannya, Ketika disuatu sisi ada yang sedang bergembira, maka di tempat lain ada yang sedang bersedih… Ketika ada yang bahagia jatuh cinta, maka harus ada yang sakit karena putus cinta Ketika ada sakit, maka ada sehat, ketika ada senyuman maka harus ada tangis,,, Ada positif ada negatif, semua itu terjadi, dan memang harus ada keduanya, agar semesta ini tetap seimbang. Ketika merasa kecewa, bukan hal itu terjadi karena nasib tak berpihak pada kita, namun berpikirlah bahwa hal itu hanyalah agar semua tetap terjaga dalam keseimbangannya, lagipula bukankah tidak ada yang abadi didunia ini kecuali Allah, begitupun dengan kondisi seseorang, ada kalanya harus merasa kecewa, ada kalanya merasa bahagia, Ketika dirundung kecewa, bersyukurlah, semoga saat-saat itu adalah saat bahagia untuk saudara kita ditempat lain… Ketika sedang sakit, berharaplah, semoga saat itu adalah saa...

Berhentilah

Berhentilah Berhentilah menarik hatiku dengan berbagai cara, berhentilah menebar harap untuk asa dan kebahagiaan semu Berhentilah datang dalam mimpiku, berhentilah menguji hatiku dengan senyum manis yang membuatku semakin merasa sakit Berhentilah hadir didepanku yang membuatku tak bisa menafikkan rasaku Berhentilah dengan tatapanmu yang tak biasa itu, karena dengannya semakin sulit bagiku untuk menyembunyikan harapku Semakin sulit bagiku untuk berhenti bermimpi, berhenti menyukaimu, berhenti memikirkanmu Berhentilah memanggilku seperti itu, karena akan semakin sulit bagiku untuk tidak mengingatmu Berhentilah bercerita pada yang lain bahwa kau berharap, karena dengannya ibaku lebih mudah terpanggil Berhentilah dan tunjukkan padaku bahwa ada yang lain yang telah memiliki hatimu, berhentilah membuatku berharap banyak hal darimu… Berhentilah dan pangkaslah dahan-dahan rasa yang semakin tumbuh subur dalam hatiku Berhentilah dan hancurkanlah hatiku dengan berbagai cara ...

Ibu

Ibu   Senyumannya begitu lembut nan harum kurasakan Matanya yang teduh iringi setiap anganku… Terbayang betapa halus, lembut belai kasihnya Gurat-guratan indah diwajahnya adalah sebuah lukisan kehidupannya Memandang jauh ke angan dan harapan padaku Tertatih dalam langkah, tertegun dalam angan imajinasi Tegak berayun langkahnya dipinggir pematang Kuning menghijau hamparan harapan Sesak dadaku teringat olehnya Ketika ribuan wanita takut kulitnya terbakar Ketika yang lain rela menghabiskan banyak rupiah untuk sekadar merawat diri Apa yang terjadi padanya? Dia sama sekali tak peduli alam akan membentuk dirinya Matahari akan mewarnai kulitnya Bisikan angin akan membawa lelahnya kepada Tuhan bahwa ada harapan terpendam di balik pengorbanannya Lembut aliran air dibawah kakinya menyimpan sebuah rahasia besar dari setiap peluh yang tertetes

Tentang Sebuah Harap

Tentang Sebuah Harap Menyapa, tersenyum, berdiri disini… Menatap dalam angan penuh harap Sebuah bingkisan hati yang mungkin akan tersimpan hingga waktu yang kan menjawabnya Termenung dalam rona indah sang mega, Terjaga dalam dinginnya malam, membeku dalam kekakuan asa Harapku kian jauh terbang membawa jiwaku bersamanya Netraku tertaut olehmu, Entah esok, esok, dan esoknya lagi, esok dan selanjutnya, selanjutnya lagi Seterusnya, hingga kau dalam pelukku, Wahai ‘harapku’… Terdiam dalam kungkungan tetes air hujan, Dibawah talas mega yang terayun angin, dalam sayup-sayup gerimis senja Ribuan butir bayu bertaburan, sisanya memukulku untuk terus berlari Yang lain berteriak, bergemuruh agar kakiku jangan berhenti hingga harap kian nyata Agar niscaya sebuah mimpi, nyatanya sebuah harap dan impian. Terayun jauh kekhawatiranku, pada esok yang tak pasti Meski gamang, nafas ini masih terhembus Kalbu tak sejalan dengan logika Asa tiada lagi bergeming Hai...