Seruan anak gembala



Seruan anak gembala

Yang terhormat, wahai pimpinan-pimpinan negeri. Yang terhormat, Bapak dan Ibu yang duduk dikursi merah nan empuk.
Saya datang dari penghujung negeri yang kita cintai ini. Negeri gemah ripah loh jinawi. Saya bangga menjadi warga negara Indonesia, saya bangga menjadi bagian dari butiran-butiran asa yang selalu mengawang jauh, membumbung ke angkasa terbang bersama desiran-desiran angin. Merah darah muda-mudi menyatu, putihnya harapan dan niat jiwa menjadi penyongsong masa depan yang gemilang, INDONESIA.

Saya datang bersama suara ribuan rakyat yang hanya menggema dihati mereka, dan tak mampu keluar dari mulut, apalagi sampai terdengar oleh insan yang bernyawa. Hanya tertunduk pasrah dengan keputusan kaum-kaum wakil yang tak sepenuhnya memahami mereka. “Saya rakyat kecil, tak bisa usul, apalagi protes.”, kata-kata keluh yang terdengar begitu pilu. Mata polos yang memandang rentetan gedung-gedung tinggi menjulang, namun, tanpa pernah berani berharap menikmati kemajuan negeri yang seolah sangat cepat dibandingkan perubahan fisik mereka yang kian ronta. 

Saya datang bersama suara pemanggul-pemanggul cangkul, tangan-tangan kekar, tubuh-tubuh yang gagah, namun mulut yang terbungkam oleh kepasrahan. Dibawah matahari mereka berjuang, dibawah terik mereka berharap setiap peluh akan menjadi buah yang indah pada musim panen kelak. Ditengah panas mereka menyatu dengan hamparan padi yang menghijau. Kemudian bulir-bulir beras yang memberi suapan kasih kepada jutaan manusia negeri ini. Mereka tak peduli dengan profesinya yang dianggap rendahan. Profesi yang bukan incaran layaknya profesi pegawai negeri. Profesi yang tak memiliki pretise dari sisi manapun. Profesi yang bahkan dihindari oleh banyak kaum muda saat ini.

Namun Bapak pemimpin yang saya hormati, sudah selayaknya mereka mendapatkan penghargaan. Bukan berupa piala, tidak perlu berupa materi, tapi cukup hormati keberadaan mereka. Apakah selama ini Bapak sudah menganggap mereka ada dan memperjuangkan nasib mereka. Sungguh Bapak, jauh diujung negeri mereka berjuang, mereka bergulat dengan panas yang begitu terik, hujan deras yang membekukan tubuh. Bukan ratna manikam yang mereka cari, napas lega kemerdekaan cukup menjadi impian terindah mereka. Kemerdekaan dari segala dera hidup dan penindasan, dari kelabu sikap culas dan curang, dari hal-hal yang banyak tak mereka ketahui, namun Tuhan cukup tahu bahwa ada hak besar yang dipikulkan dipundakmu atas kebahagiaan mereka.


Terimakasih Bapak, Ibu yang berdiri dibarisan paling depan, dengan derap langkah perjuangan yang kami nantikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Dunia tak hanya Cinta

Pada Malam Hari