6.12.2016

Dia           : "Kado terbaik yang pernah aku terima. Makasih banget..."

Kamu       : "Alhamdulillah, kalau kamu menyukainya" (benarkah? semoga benar seperti itu)

Ada basah bekas hujan yang tersisa di sini. Ketika tiba-tiba kelabu menjadi menghitam, pekat, kemudian blurr dan menjadi abu-abu lagi. Segenggam perasaan yang tak benar-benar mampu aku genggam.

Dia2        : "wah sama, kamu benar, tak mungkin kita menghubunginya ketika tak ada urusan bukan?"

Kamu      : "ya, seperti itulah, aku tak benar-benar mendalam untuk berkawan. Aku datang kalau aku membutuhkanmu, kamu boleh datang kapanpun kamu mau, jika aku bisa membantu, InsyaAllah aku akan bantu. Gitu kan?"

Dia2        : "betul, kalau dia merasa tak pernah menghubungi ketika tak butuh, lalu apakah setiap saat kita harus menghubunginya. Enggak kan..."

Sayup angin membantuku menepis daun yang menghalangi pandangku tentang esok hari. Aura petrikor masih harum tercium menusuk perasaan. Tentang kemarin.

Dia3         : "wah, dia meh nikah to?"

Kamu        : "iya"

Dia3          : "kok cepet... kamu jangan buru2."

Kamu        : "kenapa? kamu takut sendirian di jalan dakwah? tenang aja, masih banyak yang lain InsyaAllah."

 Gemericik berangsur-angsur menipis. Debu tak ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta