If you're survive

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan hatiku berharap atas apa-apa yang bukan merupakan hak hamba...

 Pada setiap hidup ada cerita yang terukir pada tiap sisinya. Terkadang ada pula yang ingin diungkap namun bahkan untuk diucap atau diakui justru begitu berat.
Ada pula kejadian yang seharusnya tak diharapkan tapi terjadi. Lalu bagaimana menghadapi kalau ternyata semua justru terasa tak bisa dihindari?
Bukankah seharusnya kita tak lagi dipusingkan dengan hal-hal pribadi, disana ada masalah umat yang menunggu tangan kita untuk bertindak. Dengarkah itu hai hati?

Aku takut pulang, jujur. Aku tak mau kamu, dia, atau dia datang ke rumah. Tidak mau.
Tapi toh aku bisa apa jika itu tetap saja mereka lakukan.

"Aku gak suka Han", kataku pada temanku.
"Afwan sedikit nasihat. 'Aku ga suka' agaknya sedikit arogan. Boleh kita membatasi diri kepada lawan jenis atas dasar prinsip dan berlaku untuk semua pria. Bukan atas dasar suka atau tidak suka. Allah Maha membolak balikan hati. Tawakal saja untuk masalah jodoh. Semua sudah dijamin dan diatur.", katanya.

Benarkah aku begitu arogan? Tak seharusnya aku membagi cerita seperti ini di media sosial. Tapi paling tidak ini adalah tempat tersepi dari media sosial yang kumiliki. InsyaAllah tidak ada yang sempat membuka.
Aku hanya ingin menulis saja. Setelah selesai. Aku akan baca kembali sebagai pihak lain yang akan memberi konsultasi pada diri sendiri.

Apabila ada seseorang yang baik hatinya terhadapmu, kemudian kamu merasa sangat berhutang budi padanya. Apakah layak apabila kamu membalasnya dengan dirimu?
Bagaimana ketika kamu pernah berkata 'ya' tapi ketika kesadaran membangunkan, kamu sadar bahwa berkata 'ya' dan menuruti semua perkataanya adalah tak sepantasnya dilakukan.
Apakah masih ada waktu untuk memperbaiki? Apakah benar padanya semua berakhir?
Pada saat sebenarnya aku berharap lebih dari dirinya. Mungkin benar dia bisa memberikan apapun, tapi pada kenyataannya dia tak mampu memberikan apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku hanya merasa ketika denganmu mimpiku menjadi sederhana, sesederhana kehidupanki selama ini. Padahal apa-apa yang terjadi semua berawal dari impian-impianku. Bagaimana aku menjalani banyak hal yang tadinya hanya mimpi bagiku. Jadi biarkanlah aku mencari orang lain yang bisa bermimpi besar bersamaku.

Lalu bagaimana penjelasan tentang 'larangan menolak orang sholeh?'. Apakah dia termasuk sholeh.

"Mir, aku punya masalah."
....
....
"Ya kalau kamu tahu itu sudah keluar dari jalur pembahasan seharusnya kamu hentikan percakapan itu.", kata temanku.
"Iya Mir, aku tahu. Tapi dia orang yang lumayan paham agama kok. InsyaAllah aman obrolanku."
 "Nik, kalau ngerti agama gak bakal dia curhat ke akhwat.", katanya lagi.

Tiba-tiba saja pikiranku seperti ditampar dengan ribuan kesadaran. Seolah ada ombak yang tiba-tiba menghancurkan keyakinanku.

"Aku pengen kenal sama orang tuamu. Aku pengen datang ke rumahmu." masih ingat dengan kalimat itu.
"Besok kalau aku pulang, aku mau main ke rumahmu ya. Boleh?", dia berucap dengan model yang hampir sama.

"Aku ga bisa melanjutkan ini. Kita salah!", kataku.
"Aku tahu Nik, tapi ini gak mudah. Aku tahu hukumnya ini salah secara agama, aku tahu. Tapi pada kenyataannya kita gak bisa memparaktikkan ini." katanya.
"Ya udah, kita hentikan semua permainan ini.", kataku.
"Kalo gitu kita nikah aja."
 " Aku gak siap. Kita hentikan semua ini."

Pada suatu waktu kamu menyadari kamu salah, lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah benar jika kamu berhenti melakukan kesalahan-kesalahan itu bukan? Ya aku akan berhenti.

"Kita hentikan semua ini."
"Kamu kenapa? Kenapa berubah secepat ini?", katanya.
"Aku gak kenapa-kenapa. Jadi tolong berhentilah mengharapkanku."
"Sudah berkali-kali aku bilang, kita belum tentu menjadi akhir. Jadi bersikaplah biasa saja terhadapku."
"Sebentar-sebentar, tapi kenapa kok rasanya secepat ini. Apa benar semua berubah secepat ini.", katanya.
"Aku tertarik dengan laki-laki lain. Gimana, sudah jelas kan. Hentikan semua ini. Jangan berharap."
"I'm survive", katanya.

Apabila kamu seorang majikan, yang menanggung hidup atas budaknya. Apabila budak itu telah berulang kali melakukan kesalahan, apa masih adakah kesempatan untuk memperbaiki diri dan berlepas dari kelamnya masa lalu? Aku budaknya, Allah majikannya.

"Oke kalau gitu berarti aku tak butuh ijinmu untuk datang kerumahmu.", katanya memaksa.

Lalu apabila aku bertemu dengan orang baru kemudian aku ingin memperjuangkannya apakah sudah selesai semuanya? Apakah benar dengannya saja semua akan berakhir?

Boleh saja kamu survive dengan apapun keputusanmu. Tapi aku juga akan survive dengan segala keputusanku. Aku akan menghentikan semua ini. Jikalah kamu yang memang pernah ada, maka sudah seharusnya kita saling meniadakan. Karena hubungan yang hakiki itu adalah hubungan yang berdasarkan Allah saja, bukan nafsu, bukan cinta.
Lihat Salim A Fillah mengajarkan, dia justru mendekati apa yang sebenarnya dia jauhi. Begitulah seharusnya. Karena mengingkari keinginan adalah jihad yang paling ringan.

Niatanku diawal mengajakmu kembali ke halaqah ternyata berakhir dengan cerita panjang yang justru menjatuhkanku sendiri. Bagaimana apabila kamu berpikir ingin menolong seseorang, tapi pada kenyataanya kamu justru yang tak terselamatkan?
Hati, justru kamulah yang seharusnya ditolong.
Pada nyatanya dia berhenti di halaqah, sebesar apapun usahaku.
Mungkin memang benar tujuan baik pun perlu langkah yang baik untuk mencapainya. Langkah baik untuk tujuan yang tak baik pun akan berakhir dengan kesia-siaan. Tak ada kebaikan hakiki yang akan dipetik.

Compang camping sudah keimananku. Apapun konsekuensinya seharusnya aku kembali ke jalan yang benar. Seberapapun terlambat, jangan sampai semua menjadi semakin buruk.
Istighfar untuk masa lalu.
Bersyukur untuk hari ini.
Berdoa untuk hari esok. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Dunia tak hanya Cinta

Pada Malam Hari