Muhammad Al Fatih

Pada suatu waktu, seorang teman bertanya, “apa cita-cita kamu?”. Bukan pertanyaan yang ajaib, istimewa, bukan pertanyaan yang spesial. Pertanyaan yang bisa saja dia tanyakan kepada siapapun, pertanyaan yang bisa juga ditanyakan siapapun kepadaku.

Pertanyaan cita-cita menjadi aneh ketika ditanyakan pada usiaku yang telah pasca remaja. Tidak banyak kemungkinan yang mampu membuatku bercita-cita banyak hal.

Kemudian dia melanjutkan, “cita-cita itu bukan jabatan, bukan pekerjaan”. Ya, aku tahu dia benar, banyak orang berbicara tentang sesuatu hal yang nampak, tapi kali ini aku paham dia sedang berbicara tentang hakikat. “Aku ingin mempunyai anak yang luar biasa” jawabku saat itu, mungkin terdengar begitu pragmatis. Spontanitas. Tapi saat itu aku tidak melanjutkan penjelasan terperinci tentang jawabanku itu.

Sebuah keputusan yang besar tentu saja berlandaskan perenungan yang panjang. Begitupun tentang cita-cita. Cita-cita sesungguhnya selalu berkembang selaras dengan perkembangan pemikiran manusia. Bagaimana dahulu aku pernah bercita-cita menjadi guru, karena aku mengidolakan guruku ketika SD, setelah SMP aku ingin menjadi Menteri Keuangan, karena saat itu aku sedang mengidolakan Sri Mulyani. Semakin dewasa semakin bingung untuk menentukan jawaban apa yang pantas ketika ditanya tentang cita-cita. Malu, takut ditertawakan, atau akan dianggap remeh oleh orang lain adalah penyebab mengapa orang dewasa tidak menyebutkan ketika ditanya tentang cita-cita.

Jawaban yang kuutarakan pada temanku barangkali adalah kalimat paling aman yang tidak menyebabkan kontroversi atau merubah sudut pandang orang lain terhadap diriku. Orang mungkin hanya akan berpikir ‘yaiyalah semua perempuan juga bercita-cita seperti itu’ atau ‘general banget sih’. Sah-sah saja. Tapi sebenarnya jawaban itu bukanlah jawaban spontanitas untuk merespon pertanyaan tentang cita-cita. Bukan jawaban agar aku dianggap aman, atau orang lain tak boleh tahu tentang pemikiranku. Jawaban itu adalah perenungan panjangku sebagai manusia, jawaban itu adalah hasil pemikiranku tentang barangkali sekilas saja dunia ini mau menerima ukiran jejak bahwa aku pernah hidup. Barangkali entah suatu saat nanti ada nama yang akan tercatat sepanjang sejarah, nama seseorang yang dahulu terkandung dalam rahimku, nama seseorang yang dengan lidahnya memanggilku Ibu. Nama seseorang yang menjadikan telapak kakiku adalah surga baginya. Nama seseorang yang ketika dia mulai lelah dia mengingatku kemudian dia paham mengapa dia terlahir ke dunia.

Suatu hari aku terpikir, kapan pertama kali mendengar namanya. Bagaimana pertama kali aku mengaguminya, hingga nama itu selalu aku ingat dan menjadi harapan besar. Muhammad Al Fatih. Iya Mahmed II. Seorang pejuang Islam yang mampu menakhlukkan Kota Bizantium pada usia yang masih sangat muda. Menjadi sosok pemimpin yang cerdas. Ketika pada jaman sekarang orang masih abu-abu menetukan langkah pada usia itu, dia telah menakhlukkan pembebasan untuk sebuah kemenangan atas Kota Heraklius.
Pada masa ini barangkali tak akan ada pemuda layaknya beliau. Menjadi pembuktian atas kesaksian dan janji Rasulullah bahwa Bizantium akan jatuh ditangan orang Islam.

Aku sempat terpikir, bahagianya menjadi perempuan yang pernah melahirkan Muhammad Al Fatih saat itu. Perempuan seperti apakah yang Allah jadikan indah generasi setelahnya. Sesempurna apakah perempuan itu, hingga Allah memilih rahimnya untuk kehidupan Al Fatih. Aku begitu ingin menjadi perempuan yang seperti itu.


Tembalang, 16 April 2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta