Jujur pada dirimu sendiri?

Aku hanya merasa bersikap jujur pada diri sendiri bukanlah perkara mudah. Terlebih untuk jenis orang-orang introvert yang cenderung sangat misterius. Ibaratnya, mereka ingin dipahami tanpa mereka berucap sepatah kata pun.

Suatu hari aku bermaksud memeriksakan mataku di sebuah optik. Bukan dokter, ya karena proses dengan dokter sangat ribet. Ini adalah pertama kalinya. Aku disuruh melihat susunan huruf yang tertera di dinding yang berjarak sekitar dua meter dariku. Satu persatu huruf kusebutkan hingga huruf kedua sebelum terakhir aku tak mampu melihatnya dengan jelas. Pada akhirnya petugasnya memasangkan lensa di depan mataku. Alhasil huruf lebih jelas kubaca.

Petugas membantuku mencoba dengan dua jenis lensa. Lensa pertama adalah dengan ukuran minus 0,50 sudah jelas tetapi masih sedikit blur. Kemudian lensa 0,75 penglihatan lebih jelas. Sempat bingung memutuskan. “Kalo nggak lihat bilang aja Mbak”, kata petugas penjaga optik tersebut.

Aku hanya teringat bapakku pernah mengisyaratkan bahwa dia tidak menginginkan aku mengenakan kacamata. Aku juga masih teringat dahulu ketika ibu masih sering membuatkanku sop, dia selalu bilang itu banyak wortelnya, kamu harus makan banyak wortel agar penglihatanmu jelas. Ibu juga selalu mengingatkanku agar tidak membaca buku dengan tiduran, aku tahu dia ingin selalu menjagaku. Terakhir ketika aku meminta ijin bapakku untuk cek mata dan memakai kacamata, ada rasa kurang setuju darinya. Entah mengapa dia berpikir seperti itu, kalau bukan karena penglihatan di kelas yang blur sehingga membuatku pusing dan ngantuk aku mungkin tidak ada niatan. Aku hanya berpikir, ibaratnya seorang lelaki dengan seleranya, aku selalu ingin menjadi perempuan terbaik yang dimiliki Bapakku setelah Ibu dan saudariku. Aku ingin menjadi perempuan yang sesuai seleranya. Kalau ada perempuan tercantik baginya, aku ingin menjadi yang paling cantik baginya. Kalau ada perempuan yang ingin selalu menjaga kehormatan deminya, aku ingin menjadi perempuan itu.

Dialah satu-satunya laki-laki yang rela mengorbankan dirinya demiku. Satu-satunya untuk saat ini. Lalu apa salahnya aku menjaga diri baik-baik demi dirinya. Kehormatanku adalah kehormatannya. Satu langkahku keluar rumah tanpa menutup aurat, berarti satu langkah baginya mendekati neraka. Aku ingin selalu menjadi perempuan yang terbaik baginya.

Balik lagi ke optik, akhirnya karena aku bingung dengan segala pertimbangan aku memutuskan untuk memeilih lensa minus 0,50. Aku merasa sedikit tidak terima bagaimana mungkin aku yang selalu menjaga posisi membacaku, aku yang makan banyak wortel menderita minus 0,75. Baiklah, akhirnya kupakai dikelas. Aku hanya memakai dikelas dan sesekali aku memakai ketika mengendarai sepeda motor. Selain itu aku jarang mengenakannya. Selang beberapa hari, aku merasa bahwa tulisan didepan monitor masih kurang begitu jelas.

Akhirnya aku menghubungi optik kembali, setelah melakukan negosiasi, akhirnya lensa masih bisa diganti. Setelah itu aku melakukan cek mata kembali, “Kalau nggak kelihatan bilang aja Mbak, salah lho itu”, katanya ketika aku salah menyebutkan beberapa huruf di urutan bawah. Entah datang dari antah berantah mana, tiba-tiba dalam pikiranku terlintas, iya juga ya, sampai harus ganti lensa hanya karena aku tak bisa jujur pada diri sendiri. Bahkan untuk maslaah benar dan salah, iya dan tidak au masih belum cukup mampu untuk berlaku jujur pada diri sendiri.

Aku selalu berprinsip agar tidak mendustai orang lain, jangan sampai kebenaran itu aku tutupi. Tetapi pada nyatanya aku justru selalu membohongi diri sendiri. Dari kejadian pemilihan lensa itu, aku sangat tersadar, bahwa barangkali aku memang belum mampu jujur terhadap diri sendiri atau aku hanya ingin berusaha lebih. Barangkali mataku sebenarnya masih bisa berusaha lebih untuk melihat pada lensa -0,50 tapi pada kenyataannya aku berbohong. Itu masalah mata, barangkali masih ada hal lain yang membuatku membohongi diri sendiri.

Tembalang, 14 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta