Postingan

Ibu Mertua

Coba sini aku ceritakan sebuah kisah tentang seseorang. Tidak butuh keahlian atau latar belakang pendidikan yang mumpuni untuk menceritakan sebuah kisah. Seseorang hanya perlu bertutur sesuai dengan apa yang telah terjadi. Dari sana kita bisa belajar banyak hal, tentang baik buruknya hidup, tentang bagaimana menghadapi manusia, tentang bagaimana kita berprinsip tapi tetap hidup dalam lingkungan yang berbaur. Sore itu aktivitas sudah tidak begitu banyak, maklum hari ini pertengahan bulan. Kedatangan barang yang harus di cek dan di-input biasanya hanya ramai di awal dan akhir bulan. Kalau sudah begini, kami hanya duduk dan bercerita kesana sini. "Kesel gue, suami jadinya mudik ke kampung. Ih udah dibilang tahun baru aja, kalo lebaran pulkam, besok tahun baru pulkam kan jadinya boros. Sekalian gitu maksudku kan Al udah gedhe jadi bisa diajakin.", kata mpok. "Kangen kalik Mbak sama ibuknya." "Tahu deh" Bang Kodok cuma diem, masih si...

Pada Malam Hari

Aku suka perjalanan malam. Karena aku bisa melihat sejenak segla sesuatunya terasa tenang. Jalanan kota menjadi lebih ramah, rumah-rumah yang tersisa hanyalah hening dan sebuah laampu penerang. Tenaang...

Hujan

Januari datang lagi. Masih dengan rintiknya yang teduh. Taman kota Semarang nampak tak seramai biasanya. Maklum, ketika hujan meskipun hari libur, orang cenderung memilih duduk di rumah menikmati tayangan televisi dengan secangkir kopi panas. Di bawah pohon akasia, bangku cokelat itu nampak terisi seorang perempuan berpayung hijau. "Iya halo, aku sudah di taman Na?', katanya melalui gadget pada seseorang. Gerimis masih begitu setia menemani bumi. Butir-butir airnya perlahan namun tak jeda.  "Riii, ayo kita ke cafe di sebelah sana yuk?". kata seorang wanita lagi yang menghampiri perempuan pertama tadi. "Di sini aja Na, aku tidak akan lama." kata wanita berpayung hijau mempersilahkan untuk duduk disampingnya. "Jadi ada apa, kok tiba-tiba?" "Aku bingung Na, segala sesuatunya nampak begitu rumit. Sepertinya dengan aku pergi semuanya akan kembali baik." "Apa kamu yakin tidak akan menyesal nanti?" "Aku tak...

Baru saja dimulai

Semua pasti berakhir bahagia, kalau belum bahagia berarti belum berakhir. Ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang lain terhadap diri kita terkadang membuat tak nyaman. Tapi bagaimanapun kita sudah perlu menyadari bahwa hidup ini bukan berdasarkan standard orang lain. Tapi banyak dari kita justru terpenjara dalam halusnya pujian orang lain, dan yang paling parah jika menjadikannya standar kesuksesan hidup. Aku takut menjadi salah satunya. Jikalah hari ini kamu bukan siapa-siapa, dan orang lain juga bilang kamu hanya receh. Biarkan saja, yang terpenting kan dirimu sendiri. Bukannya kamu masih berjuang? Kan ibumu bilang, ini cuma batu loncatan. Kamu tak perlu merasa gagal, hidup masih terlalu oanjang untuk kamu ratapi. Yang penting jangan percaya dengan omongan mereka bahwa kamu receh. You are the precious thing in this world, kalau kamu nggak ada di dunia ini. Tidak ada yang bisa menggantikan keberadaan dan kehadiranmu secara sempurna layaknya yang kamu lakukan. Jangan menyer...

Malam

Aku penasaran apa hubungan yang pernah dijalin antara Sepi dan Hujan. Mengapa keduanya memiliki c hemistry yang kuat ketika tiba-tiba hadir di hadapanku. Ada banyak kisah indah yang berikat dengan hujan, tapi aku memutuskan hujan lebih sepadan bersanding dengan sepi. Memang aku tak pernah tahu sejarah dan kisah-kisah apa yang pernah terjadi antara keduanya. Sepi begitu saja diam dan membeku bersama dingin, tetapi ketika itu Hujan tiba-tiba hadir. Sepi larut, meski tak benar-benar menghilang. Terkadang kita tak perlu mengetahui bagaimana kisah dari Hujan yang berbahasa lewat airnya, udaranya, petrikor segala suasana itu. Bahasa Sepi yang berbicara dengan tanpa sepatah kata pun, tanpa satu makna pun. Sama seperti bahasa rel kereta, tembok usangnya yang masih begitu kuat, lekuk arsitekturnya. Tak perlu kita hadir pada masanya, mereka akan mengisahkan beribu cerita dari setiap penggalnya. Ketika pertama menginjak ke Stasiun Tawang seolah tembok-tembok itu menyapaku dengan ribuan kisah...

Sedetik Lalu

Gambar
Berjamaah itu adalah bertoleransi, menguatkan dan saling memberi. Ribuan  kilometer tertinggal menjejak di belakang, kita berjalan mencari jatidiri... Lalu menemukan kalian adalah bagian terindah dalam hidupku. Tertawa, menangisi diri yang selalu alpha dan kalah dari ego, yang lemah karena urusan perasaan diri. Bercanda sebagaimana menjadi diri sendiri... Aku rindu kalian, sungguh.

Setelah saat itu

Gambar
Apa arti dari sebuah kelulusan bagimu? Siang itu... masih lekat dalam kepalaku, ada rasa bahagia. Perasaan lega karena setelah perjuangan panjang ini sebuah tali toga berhasil kupindahkan. Senyuman ikhlas yang lahir dari kedua orang tua ku adalah kado terindah pada hari itu. Tapi di balik seluruh bahagia itu aku tidak benar-benar merasakannya 100%. Ada hal lebih besar dan mengkhawatirkan ku, 'kemana setelah ini?'. Modal ijazah dan pegalaman organisasi sepertinya tidak sepenuhnya mampu menjamin masa depan. Idealisme pribadi, kondisi orang tua, dan banyak hal lain membuat kita wajib mempertimbangkan dengan baik kemana dan bagaimana hidup akan dibawa ke depan. Ku ingat-ingat lagi wajah-wajah teman sekelasku, teman-teman yang bertoga lainnya. Ada yang kemudian mengejar S2nya, mengejar karir di BUMN, mengejar hafalan, memilih berkarir di bank. Aku sendiri yang tak punya pegangan untuk ku kejar, sedikit agak gontai. Apa yang sebenarnya ingin ku kejar... Pertanyaan itu selalu...