Malam

Aku penasaran apa hubungan yang pernah dijalin antara Sepi dan Hujan. Mengapa keduanya memiliki chemistry yang kuat ketika tiba-tiba hadir di hadapanku.
Ada banyak kisah indah yang berikat dengan hujan, tapi aku memutuskan hujan lebih sepadan bersanding dengan sepi.
Memang aku tak pernah tahu sejarah dan kisah-kisah apa yang pernah terjadi antara keduanya. Sepi begitu saja diam dan membeku bersama dingin, tetapi ketika itu Hujan tiba-tiba hadir. Sepi larut, meski tak benar-benar menghilang.

Terkadang kita tak perlu mengetahui bagaimana kisah dari Hujan yang berbahasa lewat airnya, udaranya, petrikor segala suasana itu. Bahasa Sepi yang berbicara dengan tanpa sepatah kata pun, tanpa satu makna pun.
Sama seperti bahasa rel kereta, tembok usangnya yang masih begitu kuat, lekuk arsitekturnya. Tak perlu kita hadir pada masanya, mereka akan mengisahkan beribu cerita dari setiap penggalnya. Ketika pertama menginjak ke Stasiun Tawang seolah tembok-tembok itu menyapaku dengan ribuan kisah yang telah disaksikannya. Jam besarnya menandakan waktu yang silih berganti, memandang manusia dari lintas generasi.
Ada sejarah, ada kisah, ada kenyataan.

Aku bersyukur kepada Allah, karena manusia di anugerahi 'lupa'. Mungkin karenanya lah manusia bertahan hidup, untuk terus menjadi bahagia dan melupakan pedih lalu.

Tapi sejarah bercerita dengan cara lain, bukan untuk mengingatkan luka. Bukan pula membuat manusia mengingat pedih.
Sejarah mengajari kita agar terus menghargai masa lalu, belajar darinya. Dan tentu saja bersyukur kepada Allah telah diberikan kisah seindah itu. Sejarah mengajarkan kita mengenang orang-orang yang datang, kemudian ada yang masih bertahan, pun ada pula yang telah pergi dengan cara baik-baik atau tanpa pamit.

Bekasi, 6 April 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta