Rasa
Benar saja kata sahabatku, 'Kita tidak bisa menghakimi perasaan seseorang. Tidak bisa kita memutuskan hal seperti apa yang seharusnya dia rasakan.' Dalam hal ini berarti diri kita lah yang harus berubah.
Waktu terlalu berarti terlarut hanya untuk berbicara tentang rasa. Berbicara tentang hal yang selalu berubah setiap detiknya lebih cepat dari gerakan tangan. Tapi rupanya kita perlu membahas ini, biar malamku tidak menggantung dipenghujung khawatir, agar mimpiku menjadi indah biarpun bukan dirimu lagi yang di sana.
Sore itu ada diskusi hangat dengan lingkaran keduaku, tentang bagaimana melepaskan, bagaimana mengikhlaskan, dan bagaimana memantaskan diri.
'Lalu bagaimana mungkin kita bisa melepaskan jika kita pun masih melihat dia di sana sendiri?'
'Bagaimana mungkin, ketika Halalkan atau Ikhlaskan bahkan sama sekali tak bisa dipilih satupun. Bagaimana mungkin hati akan berhenti berharap. Tapi ingat, bukan berarti kita banting stir untuk pacaran donk ya'
'Terus, aku sebenarnya masih sedikit bingung dengan bagaimana memantaskan diri. Lalu jikalah ternyata orang yang kita ingin pantaskan itu bukanlah orang yang sempurna bagaimana?'
Sedikit setelah merenung, mungkin inilah yang bisa kujelaskan,
Berbicara memantaskan diri, selayaknya acuan kita janganlah manusia. Apabila masih menjadi manusia acuannya, pada suatu titik kita mungkin akan kehilangan arah. Sehingga iman menjadi naik turun tergantung siapa seseorang yang tengah membuat hati kita berbunga-bunga. Jikalah dia seorang yang beragama bagus, sholat selalu di masjid, tadabur hikmah pada setiap penggal hidupnya, jatuh cinta pada ilmu, bahkan tidak dunia yang menjadi orientasinya. Sungguh pada saat itu kamu bisa menjadi orang yang sangat luar biasa, karena kamu ingin mengimbanginya (salah pahamnya : memantaskan diri), ibadahmu menjadi lebih banyak, nangis siang malam dihadapan Rabb berharap agar seseorang itulah yang menjadi jodohmu kelak, meski tak mungkin tapi bukankah Allah adalah memiliki semua kehendak.
Tapi jika orang yang kamu sukai bukanlah orang yang sebaik itu, tiba-tiba saja ibadahmu menjadi kendor, tidak ada motivasi untuk memperbaiki diri. Benarkah itu cinta? Bukankah cinta itu datangnya dari Allah, lalu kalau justru menjauhkanmu dariNya, lalu benarkah itu cinta?
Sore ini, pada moment pembacaan doa rabithoh bersama, tiba-tiba saja aku tersadar akan suatu hal. Sungguh malu diri ini pada Allah. Bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan perasaan ini, kukira ini begitu tulus, kukiraa begitu suci, tapi bagaimana jikalah sosok yang selalu terlintas itu bukanlah sosok yang bisa kupertanggungjawabkan di hadapan Allah, bagaimana aku akan mengatakan padaNya?
'Ya Rabb, sungguh telah kucoba menafik segala rasa, segala lintasan pikiran. Tapi mengapa sosok itu lagi yang selalu menjelma dari sudut sepiku. Bukankah telah kukatakan padaMu, bukankah aku telah ber-azzam memilihMu. Mengapa masih dia cobaan terberatku? Sesulit inikah jalan menuju cintaMu'
Dan bagaimana apabila doa semacam itu tiba-tiba harus ku ubah menjadi,
'Rabbana... benarkah dia, mungkinkah perasaanku benar. Ya Illah, dia baik, bukankah dia juga dekat denganMu, alasan apalagi yang membuatMu menjadikan sulit perasaan ini?
Doa semacam ini seolah-olah kita yakin bahwa dia adalah orang yang baik. Dia bahkan sempurna juga karena dekat dengan Rabb, dengan Allah yang kita juga mencintaiNya. Bukankah Dia akan memilihkanmu orang-orang terbaik di antara orang-orang yang juga mencintaiNya. Apabila kamu mencintaiNya, dan Dia pun mencintaimu sudah tentu Allah akan memilihkan yang terbaik dari cinta-cinta yang muaranya sama.
Kemudian suatu waktu, Allah menunjukkanmu suatu hal ganjil tentangnya, memang Allah tak pernah mengutarakan secara langsung tapi ketika Dia menunjukkanmu suatu hal yang membuatmu ragu. Bukankah seolah-olah Allah telah mengatakan padamu 'Inilah seseorang yang pernah kau sebut dalam doamu. Aku telah menunjukkannya padamu, perihal akan dilanjut atau tidak itu pilihanmu. Jika kau tahu itu akan menjauhkanKu denganmu, bukankah sebaiknya kau menghindarinya?' Allahu a'lam.
***
Apabila kita pernah megagumi seseorang karena agama yang ada pada dirinya...
Kemudian suatu hari agama itu kian melusuh darinya, layakkah kagum itu masih bernaung?
***
'Diy, dia telah banyak berubah. Tapi kenapa perasaan ini belum berubah?', kataku.
'Rupanya materi sedikit merubah seorang manusia', kataku.
'Menjaga pandangan rupanya bukan lagi menjadi prinsip', kataku.
'Bagaimana kamu tahu?', kata temanku.
'Media sosial, layaknya mengatakan semua padaku', kataku.
Saat itu aku ingin marah, entah pada siapa layak kulayangkan semua kecewa ini. Mungkin perasaanku lah yang salah mengarahkan muara. Iya, tepat sekali bukankah tidak mungkin kita merubah seseorang, pemikirannya, tindakannya, itu semua adalah murni haknya. Diri sendirilah yang seharusnya berubah. Apabila kamu berharap orang lain berubah sebaik yang kamu harap untuk kamu cintai kelihatannya kamu masih terlalu berkhayal. Mungkin seharusnya kamulah yang berubah, merubah perasaan pada yang bisa kamu cintai bukan merubah orang lain.
Waktu terlalu berarti terlarut hanya untuk berbicara tentang rasa. Berbicara tentang hal yang selalu berubah setiap detiknya lebih cepat dari gerakan tangan. Tapi rupanya kita perlu membahas ini, biar malamku tidak menggantung dipenghujung khawatir, agar mimpiku menjadi indah biarpun bukan dirimu lagi yang di sana.
Sore itu ada diskusi hangat dengan lingkaran keduaku, tentang bagaimana melepaskan, bagaimana mengikhlaskan, dan bagaimana memantaskan diri.
'Lalu bagaimana mungkin kita bisa melepaskan jika kita pun masih melihat dia di sana sendiri?'
'Bagaimana mungkin, ketika Halalkan atau Ikhlaskan bahkan sama sekali tak bisa dipilih satupun. Bagaimana mungkin hati akan berhenti berharap. Tapi ingat, bukan berarti kita banting stir untuk pacaran donk ya'
'Terus, aku sebenarnya masih sedikit bingung dengan bagaimana memantaskan diri. Lalu jikalah ternyata orang yang kita ingin pantaskan itu bukanlah orang yang sempurna bagaimana?'
Sedikit setelah merenung, mungkin inilah yang bisa kujelaskan,
Berbicara memantaskan diri, selayaknya acuan kita janganlah manusia. Apabila masih menjadi manusia acuannya, pada suatu titik kita mungkin akan kehilangan arah. Sehingga iman menjadi naik turun tergantung siapa seseorang yang tengah membuat hati kita berbunga-bunga. Jikalah dia seorang yang beragama bagus, sholat selalu di masjid, tadabur hikmah pada setiap penggal hidupnya, jatuh cinta pada ilmu, bahkan tidak dunia yang menjadi orientasinya. Sungguh pada saat itu kamu bisa menjadi orang yang sangat luar biasa, karena kamu ingin mengimbanginya (salah pahamnya : memantaskan diri), ibadahmu menjadi lebih banyak, nangis siang malam dihadapan Rabb berharap agar seseorang itulah yang menjadi jodohmu kelak, meski tak mungkin tapi bukankah Allah adalah memiliki semua kehendak.
Tapi jika orang yang kamu sukai bukanlah orang yang sebaik itu, tiba-tiba saja ibadahmu menjadi kendor, tidak ada motivasi untuk memperbaiki diri. Benarkah itu cinta? Bukankah cinta itu datangnya dari Allah, lalu kalau justru menjauhkanmu dariNya, lalu benarkah itu cinta?
Sore ini, pada moment pembacaan doa rabithoh bersama, tiba-tiba saja aku tersadar akan suatu hal. Sungguh malu diri ini pada Allah. Bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan perasaan ini, kukira ini begitu tulus, kukiraa begitu suci, tapi bagaimana jikalah sosok yang selalu terlintas itu bukanlah sosok yang bisa kupertanggungjawabkan di hadapan Allah, bagaimana aku akan mengatakan padaNya?
'Ya Rabb, sungguh telah kucoba menafik segala rasa, segala lintasan pikiran. Tapi mengapa sosok itu lagi yang selalu menjelma dari sudut sepiku. Bukankah telah kukatakan padaMu, bukankah aku telah ber-azzam memilihMu. Mengapa masih dia cobaan terberatku? Sesulit inikah jalan menuju cintaMu'
Dan bagaimana apabila doa semacam itu tiba-tiba harus ku ubah menjadi,
'Rabbana... benarkah dia, mungkinkah perasaanku benar. Ya Illah, dia baik, bukankah dia juga dekat denganMu, alasan apalagi yang membuatMu menjadikan sulit perasaan ini?
Doa semacam ini seolah-olah kita yakin bahwa dia adalah orang yang baik. Dia bahkan sempurna juga karena dekat dengan Rabb, dengan Allah yang kita juga mencintaiNya. Bukankah Dia akan memilihkanmu orang-orang terbaik di antara orang-orang yang juga mencintaiNya. Apabila kamu mencintaiNya, dan Dia pun mencintaimu sudah tentu Allah akan memilihkan yang terbaik dari cinta-cinta yang muaranya sama.
Kemudian suatu waktu, Allah menunjukkanmu suatu hal ganjil tentangnya, memang Allah tak pernah mengutarakan secara langsung tapi ketika Dia menunjukkanmu suatu hal yang membuatmu ragu. Bukankah seolah-olah Allah telah mengatakan padamu 'Inilah seseorang yang pernah kau sebut dalam doamu. Aku telah menunjukkannya padamu, perihal akan dilanjut atau tidak itu pilihanmu. Jika kau tahu itu akan menjauhkanKu denganmu, bukankah sebaiknya kau menghindarinya?' Allahu a'lam.
***
Apabila kita pernah megagumi seseorang karena agama yang ada pada dirinya...
Kemudian suatu hari agama itu kian melusuh darinya, layakkah kagum itu masih bernaung?
***
'Diy, dia telah banyak berubah. Tapi kenapa perasaan ini belum berubah?', kataku.
'Rupanya materi sedikit merubah seorang manusia', kataku.
'Menjaga pandangan rupanya bukan lagi menjadi prinsip', kataku.
'Bagaimana kamu tahu?', kata temanku.
'Media sosial, layaknya mengatakan semua padaku', kataku.
Saat itu aku ingin marah, entah pada siapa layak kulayangkan semua kecewa ini. Mungkin perasaanku lah yang salah mengarahkan muara. Iya, tepat sekali bukankah tidak mungkin kita merubah seseorang, pemikirannya, tindakannya, itu semua adalah murni haknya. Diri sendirilah yang seharusnya berubah. Apabila kamu berharap orang lain berubah sebaik yang kamu harap untuk kamu cintai kelihatannya kamu masih terlalu berkhayal. Mungkin seharusnya kamulah yang berubah, merubah perasaan pada yang bisa kamu cintai bukan merubah orang lain.

Komentar
Posting Komentar