Bukan Allah tak adil
Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana
mungkin hidup terkadang susah dimengerti. Terakhir kali aku melihatnya, entah
bagaimana aku bisa merasakan hawa tak baik terjadi padanya. Ketika itu aku baru
akan berangkat ke kota belajar, aku berpapasan dengannya dipersimpangan. Dia
terkejut melihatku.
Hal yang membuatku kecewa adalah aku
terlalu berharap padanya. Dia bukan saudara sekandungku, dia adalah anak kedua
dari adik ayahku. Semenjak kecil dia menjadi anak asuh orang tuaku, dahulu aku
seringkali merasa iri padanya. Sebagai anak bungsu dikeluarga ini aku
semestinya manja, tapi sayang sekali kemanjaanku masa kecil tak terbayarkan
karena saat itu orang tuaku mempunyai anak asuh, sehingga terkadang begitu
terlihat mereka lebih mengutamakan dia sebagai anggota keluarga yang paling
kecil.
Saat itu aku begitu membencinya.
Sangat.
Waktu-waktu yang seharusnya saat itu
orang tuaku bercumbu denganku pada masa kecil. Waktu-waktu yang seharusnya
akulah yang ada dipelukan ibuku ketika menjelang tidur, tapi tidak.
Ayahku pun begitu menyayanginya karena
memang di keluargaku tak memiliki anak laki-laki, sehingga dia menjadi harapan
ayahku. Aku terkadang berpikir aku pun tak kalah dengan apabila orang tuaku
memiliki anak laki-laki. Aku bisa melakukan apapun yang kubisa untuk
membanggakan orang tuaku.
Suatu hari, aku tidak begitu ingat
tepatnya. Adik ayahku bertandang ke rumah, waktu itu aku tak begitu paham
pembahasan orang tua, yang pasti aku tahu itu adalah akad permintaan kembali
anaknya. Ada rasa senang kala itu, aku akan menjadi satu-satunya anak bungsu di
rumah ini. Semuanya untukku. Begitu pikirku. Meskipun aku tahu aku harus
berbahagia di atas kesedihan orang tuaku.
Selepas adik ayahku pergi, aku bisa
merasakan atmosfer yang berbeda. Ibuku bersedih, menyesal. Tak kalah sedih pun
ayahku. Tapi saat itu aku tak mengerti mengapa aku tak bisa merasakan sedih
pula. Jujur aku justru merasa senang. Aku merdeka.
Waktu berangsur berlalu. Kekecewaan
orang tuaku sedikit demi sedikit tergerus masa, meski aku tahu hal itu tidak
mengurangi sedikitpun rasa sayang mereka terhadap anak angkatnya. Seringkali
dia juga masih berkunjung ke rumahku sebatas untuk menghapus rindu. Aku masih
sering merasa cemburu apabila dia memeluk ibuku dengan mesra. Siapa dia,
pikirku.
Sekarang, lebih dari sewindu berlalu aku
telah dewasa. Dia juga telah remaja. Aku semakin paham makna sebuah hakikat.
Meskipun kalau saja orang tuaku memiliki ribuan anak angkat, aku tahu tidak
akan ada yang mampu menggantikan lelahnya mengandungku, lelahnya menjagaku
setiap malam, lelah bagaimana harus mengurusku ketika sakit. Itulah orang tua
kandung.
Aku baru menyadari terkadang adanya jarak
justru akan mendekatkan hati. Merantau dan jauh dari orang tua, aku baru tahu
mereka begitu berharga bagiku, aku baru tahu bahwa sebenarnya mereka
menyayangiku lebih dari yang kuduga sebelumnya. Aku tak peduli sekalipun mereka
mempunyai ribuan anak angkat, karena aku mengerti satu hal itu.
Dia sekarang duduk dibangku menengah,
kelas tiga. Jangan disangka aku sudah tak ingin mengenalnya, atau bahkan aku
dendam padanya. Satu detik bergerak mampu memutar bumi ratusan kilometer,
menggeser kita ratusan jarak terhadap langit satu detik yang lalu, tak khayal
juga apabila waktu akan merubah banyak hal. Bisa dibilang, dia teman curhat
yang baik, dia pendengar yang baik. Dia tumbuh dewasa, terkadang bahkan
kata-kata yang keluar dari mulutnya semacam kalimat yang seharusnya keluar dari
mulut orang lima tahun lebih tua darinya. Aku pula yang dahulu mengantarnya
mencari sekolah SMP. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Aku tahu apapun harapan yang kita
sematkan pada manusia akan selalu berakhir dengan kecewa. Entah itu tentang
cinta atau harapan lainnya. Aku berharap banyak padanya, menggambarkan tinta
emas pada lembaran keturunan eyangku. Pikirku.
Sayang, keluarganya rumit. Rumit secara
sosial, rumit finansial. Kakak perempuannya hamil diluar nikah, meskipun
sekarang telah menikah. Berkali aku bilang padanya, kamu adalah harapan
keluarga, beri contoh yang baik untuk adik-adikmu. Kamu tahu kakakmu telah
gagal memberi teladan bagi adik-adiknya, setidaknya orang tuamu masih
memilikimu sebagai satu-satunya anak laki-laki, jadilah yang terbaik,
belajarlah dengan benar. Dia menjawab, dia ingin menjadi guru.
Suatu hari Ibunya bercerita padaku,
gurunya tidak mempercayainya mendapat nilai bagus di kelas, dipikirnya dia
mencontek. Siapa yang mau kerja kerasnya didustakan, bahkan dituduh mencontek.
Alhasil dia marah terhadap gurunya, boleh dibilang ini tidak sopan, tapi
sebagai gurunya pun tidak benar seperti ini. Dia sampai menangis membenarkan
kebenaran. Lucu ketika mendengarnya, hidup terkadang memang terlihat tak adil.
Tapi kita percaya Allah adil, sangat adil, kita hanya belum tahu apa yang akan
terjadi di depan. Itu saja.
Pernah juga Ibunya bercerita padaku,
nilainya jelek. Dia mendapat tiga di ulangan. Dia bilang dia puas dengan nilai
itu, ‘alah yang lain bagus tapi nyontek’.
Aku hanya tersenyum, bagaimana dia memiliki karakter seperti itu. Antara dia
malas berjuang, pasrah atau memang dia mempertahankan kejujuran. Hanya
Penciptanya yang paham hatinya. Saat itu aku salut padanya.
‘Iya
mbak, dua minggu lagi’, terakhir kali aku bertemu dengannya dipersimpangan.
Tidak ada raut bahagia tersirat dari mukanya. Tidak ada. Tubuhnya yang dahulu
gempal sekarang menyusut, meskipun hal itu membuat mataku percaya bahwa dia
sebenarnya tinggi. Dahulu ketika dia gempal dia terlihat tidak tinggi.
‘Serius
belajar, jangan leda-lede’ kataku singkat. Kemudian aku berlalu melanjutkan
perjalanan ke Semarang.
Terakhir aku tahu, mungkin ujian
kelulusannya tinggal hitungan hari. Dia sering menginap di warnet, tak pulang
kerumah seharian sudah biasa. Secara sekilas, orang akan berpikir, kemana orang
tuanya. Orang tua yang baik tidak akan membiarkan ini menjelang ujian sekolah.
’Orang tuanya malah mau cerai’ kata
Ibuku.
Apa? Gila! Pikirku. Sudah tak asing
lagi bagi telinga warga di sini, bukan tabu juga bagi keluarga besar ayahku,
bahwa adiknya yang satu ini adalah gila wanita. Dalam sejarah pernikahannya,
air mata istri bukan saja menjadi bumbu penyedap, bahkan menjadi ancaman
keretakan, sudah lama retak, pernah membaik kini terancam pecah. Bermain dukun
untuk menandingi pelet wanita selingkuhan, pernah juga dilakukan istrinya. Dulu
ketika aku masih kecil, aku pernah melihatnya berbicara sendiri. Apakah itu
pengaruh pelet, aku tak paham.
Aku hanya kasihan pada adikku. Disaat
anak-anak lain mendapat perhatian lebih dari orang tuanya, belajar lebih sering
ditunggu, sholat selalu diingatkan. Orang tuanya justru sedang kisruh mengurusi
ancaman mereka pribadi. Ada hak anak yang seharusnya ditunaikan, ada harapan
besar yang seharusnya kalian pupuk, dia ada didepan kalian. Meskipun bukan
juara olimpiade, meskipun tidak sehebat yang kalian mau, tapi dia berpotensi.
Einstein juga masa kecilnya tak terlihat brilian.
Dia begitu berhati besar. Semoga fase
hidup ini tidak menghancurkan semangatnya, tapi mendewasakannya. Kalau dia
mampu melewati ini, aku yakin dia akan menjadi lebih dewasa dibanding anak-anak
seumurannya.
Semangat
Ka...
Temanggung, 06 Mei 2016
Komentar
Posting Komentar