Sejenak

Jika ada hal yang mampu menahan detik ke detik
Jika saja waktu bersedia menunggu sejenak

Bunga seiring tumbuh, tunas yang semula termakan kebekuan menyeruak,
mendesak katup-katup pelindungnya
Rinai bulir-bulir air bertaburan
Bersama menyandera dalam satu alam sendu
Mengalir dari ujung kepala
Raras bersama hangat tubuh yang memudar oleh dingin

Kilau mutiaramu menyerap sisa-sisa cahaya dari mendung sore itu
Terbiaskan dalam udara, terhantarkan oleh sorot lentera,
berhilir menapis seribu makna, menukik dalam, jauh di pedalaman qalbu.

Tatkala loka kita saja, satu bertukar oksigen
Saat itulah terumbar madat harapan
Satu detik dan detik selanjutnya
pastilah netraku tidak kehilangan arah

Namun ketika bukan lagi detik, melainkan mentari yang coba mengambil arah pandangku...

Untuk pertama kalinya, ketika hati, mata dan pikiran
seluruhnya diriku hadir di dunia, membeku laksana stupa
Menyadari wujud nyata dari siluet yang kian kali menenggelamkan di sudut malam hening
Bukan lagi hijab bahkan satuan meter tidak lagi menghalangi

Jika ini adalah permainan, maka saat itu adalah kesempatan
Jika ini adalah ujian, maka saat-saat itu adalah dimana kubutuhkan kekuatan hati lebih banyak dari biasanya

Seperti berdiri bertahan di tengah sungai berarus deras yang terus saja melawan
Ranum jiwamu, tutur kata dan retorika memangkas logikaku yang pendek
Menuntun pada arah logikamu yang begitu mengagumkan

Jika mengaku tak peduli, tapi nyatanya antusiasku tak dapat kucegah untuk setiap frasamu
Jika, hingga di ujung jalanmu masih ada arah, sesungguhnya kuingin berada dalam arah itu
Jika saja masa nanti tidak lebih pasti dari detik ini, alunan mahabahku kuikat dalam doa
Jika kelak bukanlah waktu yang lebih indah dari saat ini, aku tetap tak akan berdoa untuk daya meraihmu

Saat ini dan untuk saat ini
Diam dalam lembah sendiriku
Termenung, merarai akar-akar yang mulai menghujam qalbu
Bertahan angkuh menampik naluri
Terlebih menjadi masalah besar di kala jalanmu dan jalanku berpotongan

Ketakutan pada detik itu adalah aku kehilangan kendali atas qalbuku
Sajak ini tak akan seindah gelombang hati yang coba ku cegah
Sajak ini tak lebih dari pintu-pintu di teras rumah
Sajak ini tak ubahnya aliran arus sungai
Jika ingin tenggelam maka kau harus basah bersamanya

Boja Semarang, lkmm madya 2015


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta