Seperti Bulan

Bismillahirrahmanirrahim...Bukanlah hari yang begitu baik. Tak apalah. Mentari masih sangat segan untuk sekadar mampir dan menyaksikan kebodohan ini. Hujan pun tak turun hari ini, itu tandanya hari ini tidak begitu buruk. Terkadang perlu juga terlihat begitu bodoh. Perlu juga untuk terlihat begitu tolol dan memalukan. Itulah karakteristik manusia yang sebenarnya. Lemah dan mudah lupa.Dari sanalah pembelajaran akan dimulai. Titik kesempurnaan itu terbentuk dari tangga-tangga revisi kesalahan. Kesempurnaan itu terbentuk dari proses yang panjang bukan jalan pintas yang instant.Hargailah dan sadarilah dirimu adalah manusia biasa, tempatnya salah dan kehinaan. Bukan saja hanya menyesali keadaan yang telah lalu. Tapi bagaimana memperbaiki kemungkinan masa depan.Ketika bayangan kegagalan membayangi setiap langkah yang akan kau kayuh, maka jangan takut untuk melangkah. Toh semua belum kau lalui kan? Kau terbayang hal-hal buruk yang mungki terjadi. Ada segunduk keraguan yang menahanmu disini. Terpikir kalau saja ada jalan aternatif untuk menghindar, mungkin kau akan lebih memilihnya. Jalan yang lebih mudah, jalan yang tidak menawarkan ketakutan-ketakutanmu. Tapi apa kamu yakin jalan itu tujuannya sama?  Kalaupun sama, apakah akan memberikan pengalaman yang sama besar dengan ketika kau lalui jalan utama? Sudahlah. Hadapi saja! Jangan takut. Hanya itu yang mampu meruntuhkan keraguan. Hadapi semua yang ada didepanmu. Yakinlah kamu bisa. Satu kata ampuh. Karena hanya dengan menghadapinya kamu baru akan melewati titik seram dijalan kehidupanmu. Setelah itu bersiaplah untuk menyambut hal menakjubkan lain yang tak pernah kau duga.Mungkin benar kamu memang tak sempurna. Lihat saja disana banyak yang jauh lebih berkapasitas. Lebih menarik, lebih pintar, lebih kreatif. Tapi kamu harus yakin kamu berbeda. Kamu datang dari belantara dunia, hutan rimba. Mereka tidak pernah melewati jalan yang kau tempuh. Yakinlah pada masa-masa kecilmu, ketika gemerisik pohon bambu saling bergesek. Riak permukaan air itu membawa imajinasimu. Ketika jalan-jalan setapak itu kini membawa langkahmu ketitik sekarang ini. Disaat kamu memandang langit begitu luas, burung terbang begitu bahagia menikmati kebebasannya. Butir-butir partikel mengambang dicakrawala, udara tidak terlihat, tapi seolah matamu membentuknya menjadi butiran-butiran yang tak pernah dipahami pasangan mata lain. Setapak kaki merasakan permukaan bumi yang sedikit lembab, sedikit berlumut namun tak basah dan tak licin. Tidak kau temukan lagi semua itu sekarang, tapi memorimu telah merekamnya.Hargailah dirimu! Mungkin orang lain bisa saja merendahkanmu. Bisa saja mereka menghujatmu dengan olok-olokan yang datang dari kepicikan. Jangan percaya mereka. Ingatlah kamu hebat. Ketika tidak ada yang meneriakan kamu begitu mengagumkan, masih ada kamu dan nyawamu, kehidupanmu, dan ingatanmu yang akan sangat menghargaimu. Setiap inchi ceritamu, meski memalukan atau mengagumkan. Semua begitu berarti. Lihat saja, bumi mempunyai puncak Everest yang begitu mengagumkan tapi di titik lain dia juga punya Palung Mariana yang menyimpan kehidupan makhluk-makhluk dengan sejuta misterinya. Bulan pun pada kenyataannya tidak sesempurna kelihatannya kan? Tapi berapa juta pasang mata yang mengungkapkan bahwa bulan begitu mengagumkan. Terlebih ketika bersanding dengan milyaran bintang menghias horison dan menahan kepala berjuta-juta untuk lekat padanya.Apalagi yang akan kau remehkan dari dirimu? Lalu kapan kamu akan bangkit dan meneriakkan kamu bisa pada dirimu sendiri? Jadilah bulan yang bernaung dilangit gelap, terang meski dia tak memiliki cahayanya sendiri. Mengagumkan meski semua orang pun tahu kenyataannya dia tak seindah yang kita lihat di bumi. Apakah manusia menjadi bosan dan benci dengan bulan? Apa manusia mencoba menghancurkan bulan setelah mereka tahu ketidak sempurnaannya? Coming back at your heart...#23 Maret 2015, Semarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Pada Malam Hari

Dunia tak hanya Cinta