Senja diujung sungai
Senja diujung sungai
Semburat
senja mengalir bersama iringan matahari yang kian tenggelam
Manisnya
nektar tiba-tiba berubah menjadi sebuah jamu, enggan tertelan
Bukankah
sebuah tanya itu seharusnya kian terjawab
Seiring
datang, kemudian berlalu
Sebut saja
ini kecewa, sebut saja ini kebohongan nyata paling dusta
Jiwaku ingin
menjauh, kurisau tiap kali semua hal itu terjadi
Usaikanlah
Tuhan ku…
Jika benar jatuh
cinta adalah keputusan, maka aku memutuskan untuk tidak akan jatuh cinta
Jika jatuh
cinta adalah sebuah pilihan, aku memilih untuk tidak pernah mengenalnya
Jika jatuh
cinta adalah kepastian, maka aku akan memastikan untuk tidak akan pernah
bertemu, bahkan melihatnya
Tapi ketika
jarak dan waktu mempertemukan
Tatkala
menemukan dua butir mutiara yang sinarnya begitu menukik dalam, jauh diujung
mata batin
Ketika sinar
tatapan terbiaskan cahaya, pantulannya tepat kearah dua butir korneaku
Jika jatuh
hati adalah sebuah keputusan…
Lalu apa
arti setiap penggal waktu, setiap potong kesempatan, setiap detik yang coba
mempertemukan
Tahukah
betapa tidak mudah menanggung semua ini sendiri
Ketika
dengan mudah dikatakan jatuh cinta bisa saja diputuskan, itu hanya teori.
Manusia
memang memiliki satu nyawa dalam cinta, sebut saja hati namanya.
Namun,
bagaimanapun manusia tidak pernah bisa seutuhnya mampu mengendalikannya
Tak ingin
tenggelam
Tak ingin
terbawa arus ini, meski begitu deras
Tahukah
seberapa besar dayaku untuk menafikkan kenyataan ini
Begitu
nyata, bukan lagi siluet-siluet yang berkelebat menyita kekosongan mata
Bisa saja
kuraih dengan netraku, sejam dua jam
Mudah saja
kutarik udara kubisikkan sebuah kebenaran dari fiksi-fiksiku
Jika ada hal
yang mampu menahan detik ke detik
Jika saja
waktu bersedia menunggu sejenak
Bunga
seiring tumbuh
Tunas yang
semula termakan kebekuan, menyeruak
Mendesak
katup-katup pelindungnya
Rinai
bulir-bulir air bertaburan
Bersama
menyandera dalam satu alam sendu
Mengalir
dari ujung kepala
Raras
bersama hangat tubuh yang memeudar
Kilau
mutiaramu menyerap sisa-sisa cahaya dari mendung sore itu
Terbiaskan
dalam udara, terhantarkan oleh sorot lentera, berhilir menapis seribu makna,
menukik dalam, jauh dipedalaman kalbu.
Tatakala
loka kita berdua, satu, bertukar oksigen
Saat itulah
terumbar madat harapan
Satu detik
dan detik selanjutnya
Pastilah
netraku tidak kehilangan arah
Namun ketika
bukan lagi detik, melainkan mentari yang coba mengambil arah pandangku…
Untuk
pertama kalinya, ketika hati, mata, dan pikiran
Seluruhnya
diriku hadir didunia, membeku laksana stupa
Menyadari
wujud nyata dari siluet yang kian kali menenggelamkan disudut malam hening
Bukan lagi
hijab bahkan satuan meter tidak algi membatasi.
Jika ini
adalah permainan, maka saat itu adalah kesempatan
Jika ini
adlaah ujian, maka saat-saat itu adalah dimana kubutuhkan kekuatan hati lebih
banyak dari biasanya
Seperti
berdiri bertahan ditengah sungai berarus deras yang terus saja melawan
Ranum
jiwamu, tutur kata, dan retorika
Memangkas
logikaku yang pendek
Menuntun
pada arah logikamu yang begitu mengagumkan
Jika mengaku
tak peduli, tapi nyatanya antusiasku tak dapat kucegah untuk setiap frasanya.
Jika hingga
diujung jalanmu masih ada arah, sesungguhnya kuingin menjadi arah itu
Jika saja
masa nanti tidak lebih pasti dari detik ini, alunan mahabahku kuikat dalam do’a
Jika kelak
bukanlah waktu yang lebih indah dari saat ini, aku tetap tak akan berdo’a untuk
daya meraihnya.
Saat ini dan
untuk saat ini
Diam dalam
lembah sendiriku
Termenung,
merarai akar-akar yang mulai menghujam kalbu
Bertahan
angkuh menampik naluri
Terlebih
menjadi masalah besar dikala jalanmu dan jalanku berpotongan
Ketakutan
terbesar pada detik itu adalah aku kehilangan kendali atas kalbuku
Sajak ini
tak akan seindah rasa yang kutahan
Sajak ini
tak lebih dari pintu-pintu diteras rumah
Sajak ini
tak ubahnya aliran sungai, jika ingin tenggelam maka kau harus basah
bersamanya.
Komentar
Posting Komentar