Surat yang tak akan kukirimkan


Surat yang tak akan kukirimkan
Lantunan kata ini mungkin hanya akan tersimpan dalam catatan kecilku
Tidak perlu sampai padamu, dan aku pun tak berharap begitu
Aku hanya ingin mengurangi beban hatiku yang kian bergejolak
Wahai ikhwan fillah, ketika tanpa sengaja netraku menyadari kehadiranmu
Sebenarnya dari kejauhan, disini, aku ingin terus memandangmu, sebenarnya ingin selalu mengamati setiap gerakanmu, pakaian apa yang kau kenakan, jam seperti apa yang kau pakai, seperti apa gaya rambutmu, bagaimana gerak langkah kakimu, dan banyak hal lain…
Tapi pada akhirnya akupun tak dapat melakukannya, kutundukkan kepalaku, kualihkan pandangan mataku
Aku teringat perintah Allah untuk menjaga pandanganku, aku tak ingin Allah murka karenanya
Aku pun tahu pasti ada banyak ibrah mengapa Allah melarangnya, aku pun tahu ketika hal itu kulakukan pastilah gejolak hati ini kian membuncah…
Wahai ikhwan seperjuangan, ketika melihat karya-karyamu
Sebenarnya ingin sedikit kukatakan padamu barang sepatah dua patah kata, bahwa karyamu luar biasa, setidaknya memberimu semangat untuk karya-karya selanjutnya…
Namun dalam hati, tak ada gunanya aku melakukannya, pastilah tanpa aku memberi ucapan pun kau akan tetap semangat berkarya, karena karya-karyamu adalah caramu berkontribusi dalam jalan dakwah ini, karya-karya yang kau buat atas dasar kecintaan pada Allah…
Ketika aku menemui permasalahan kehidupan, hatiku berbisik, mungkin meminta pendapatmu melalui pesan sosmed  bisa membantu, tapi pada akhirnya urung kulakukan, aku tidak ingin ada modus yang tersirat dari niatan yang awalnya baik itu,
Terkadang ketika ada tugas kuliah yang membuatku begitu pusing, terbesit untuk meminta bantuanmu menyelesaikannya,
Namun aku takut mengganggumu, bukan saja kesibukanmu, namun yang lebih kutakutkan adalah mengganggu keteguhan imanmu
Wahai ikhwan pejuang agama Allah, ketika menjumpai taujih-taujihmu difacebook, hatiku tergetar isyarat bahwa kekagumanku semakin bertambah…
Meski sudah kuhalau seperti apapun, namun rasa itu kian mendera hatiku
Aku pun tak paham bagaimana hal itu terjadi
Terkadang sampai-sampai aku kehilangan akal untuk menahannya
Hampir-hampir aku kehabisan cara untuk melakukannya
Bukan melalui sms, bukan pula melalui syuro’, atau kedekatan lain
Tanpa bahasa, tanpa pernah berbicara, bahkan chatting-an
Namun entah bagaimana semua ini bisa terjadi
Aku pun tak dapat menyalahkan waktu, tak juga keadaan yang terkadang mempertemukan kita tanpa sengaja
Hanya syukur yang dapat kuucapkan, sungguh pastilah Allah menetapkan segala sesuatu bukan tanpa alasan
Semua ini telah tercatat di Lauh Mahfudz bahkan jauh sebelum aku mengenalmu
Meski aku pun tahu, bukan tentu pula kau adalah jodohku
Meski aku pun berharap insan seperti engkaulah yang akan menemani sisa hidupku kelak
Namun tidak ada yang bisa menjaminnya, semua keputusan ada ditangan Allah
Meski bunga-bunga harapan itu kian bermekaran di hatiku saat ini
Waktu terus berubah, matahari terbit hingga sang bulan tenggelam
Harapanku, semoga rasa ini tidaklah mengotori niatanku untuk terus berjalan meniti amanah dalam urusan agama Allah
Aku tidak ingin Allah menjauhiku karena sikapku yang tak pandai mensyukuri sebuah anugerah hati
Terkadang ingin sekali kubagi dengan sahabat, atau teman-temanku betapa aku mengagumimu
Namun aku tidak ingin terjadi fitnah-fitnah yang dapat merusak hubungan ukhuwah dakwah
Tidak ingin ukhuwah perjuangan ini terkotori dengan maksud-maksud pribadi
Biar saja kusimpan rasa itu dalam kediamanku, kekaguman itu hanya dalam hatiku…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Dunia tak hanya Cinta

Pada Malam Hari