Jika saja tak sekadar formalitas
Jika saja tak sekadar formalitas
Dalam sela-sela
waktu senggangku, terkadang aku terpikir, sungguh banyak hal yang kulakukan
tanpa dasar alasan yang jelas. Begitu saja hal-hal itu kulakukan karena mungkin
terkejar tuntutan, keinginan orang lain, kewajiban, atau mungkin kebiasaan.
Padahal jika kita hitung umur manusia didunia sangatlah singkat, waktu kita
hanya sebentar. Sangat sayang apabila waktu yang diberikan kepada kita hanya
digunakan untuk melakukan sesuatu tanpa bisa memaknainya. Tanpa bisa mengambil
hikmah darinya.
Terkadang, hal
yang menyesakkan adalah ketika hasil kerjaku tak sebanding dengan hasil yang
diharapkan, atau bahkan kegagalan. Pada titik awalnya aku akan merasa sangat
frustasi, meskipun sambil mencoba bertahan dan kembali bangkit, namun ketika
pertama kali terjadi ketidak sepahaman dengan kenyataan yang diharapkan, maka
tidak mudah untuk menerima kenyataan tersebut. Kemudian setelah itu, aku akan
sibuk mencari motivasi-motivasi agar dapat menyembuhkan rasa kecewa itu. Mulai
dari mencoba menyeting bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda,
menyadari bahwa apa yang terjadi adalah ketentuan yang terbaik untukku dan lain
sebagainya. Namun, ketika mengingat beberapa waktu kebelakang, ketika aku masih
memeperjuangkan kerjaku tersebut, banyak hal yang kusesali. Kukoreksi ulang
mengapa aku belum berhasil, hal-hal yang mungkin menghalangi keberhasilanku,
kesalahan-kesalahan yang tidak aku perhatikan sebelumnya, sedetail-detailnya
kucoba mencari.
Salah satu yang
paling jelas dari diriku adalah belum bisa memaknai apa yang kulakukan.
Misalnya melaksanakan ibadah karena kewajiban, belajar karena ingin dapat nilai
bagus, mengerjakan membuat laporan penelitian karena hanya ingin mengejar
dateline dari dosen, mengerjakan PR karena dipagi harinya akan ditanyakan oleh
guru, melakukan ibadah sunnah karena hal itu baik, dan semua orang beranggapan
bahwa mengerjakan itu akan mendapatkan pahala, puasa karena memang wajib, atau
karena orang baik lainnya juga melakukan hal tersebut, dan banyak hal lain yang
kumaknai belum secara semestinya. Meskipun memang pemaknaan yang hanya pada
permukaan itu tidak seluruhnya buruk, namun rasanya pemaknaan pada sesuatu
menentukan bagaimana kita dapat mengambil pelajaran dari sesuatu tersebut.
Weww, mungkin
cukup membingungkan, baiklah langsung ke contoh saja. Ketika seorang guru
memberikan tugas kepada muridnya sudah pasti maksudnya agar sang murid mampu
menguasai hal yang diajarkan, sehingga dapat mengambil ilmu darinya yang kelak
diharapkan dapat di aplikasikan dengan ilmu lain sehingga berguna untuk
kehidupan. Akan tetapi, apa kenyataan yang terjadi, aku seringkali mengerjakan
tugas hanya karena ingin mendapat nilai, hanya karena teman-teman yang lain
mengerjakan pula. Padahal akan banyak kemanfaatan yang bisa didapatkan ketika
pemaknaan terhadap yang kulakukan senada dengan yang seharusnya. Sungguh
memalukan sekali ketika aku teringat akan hal ini, betapa banyak waktu dan
pikiran yang kukelurkan untuk melakukan hal itu, namun tanpa dapat memaknai
dengan benar.
Hal lain yang
perlu dikoreksi ulang adalah pemaknaan dalam melaksanakan ibadah. Beberapa
waktu yang lalu, aku baru dapat memaknai mengapa aku melaksanakan sholat wajib,
karena memang hal itu harus kulakukan. Mengapa aku membaca surah Waqi’ah setiap
malam karena aku ingin terhindar dari kefakiran. Mengapa aku sholat dhuha
karena temanku pun melaksanakannya, dan ketika dia melakukan maka Allah akan
lebih menghargainya dibandingkan dengan diriku yang tak melakukannya, sehingga
kelak temanku pasti akan diberi nilai yang baik, pasti temanku akan diberi
banyak keberuntungan, dan banyak hal lain yang sekarang aku pikir bahwa hal itu
sungguh sangat menghancurkanku. Sehingga seringkali dahulu ketika temanku
mendapatkan hal-hal baik, aku sering iri padanya, aku bahkan menuntut Allah.
Bukankah aku juga melakukan ibadah-ibadah yang dia lakukan, bukankah aku juga
menghindari hal-hal yang Kau larang, seperti halnya yang dia lakukan, tapi Ya
Allah mengapa aku tidak Engkau beri kebaikan seperti halnya dia, apakah Engkau
lebih sayang padanya dari pada diriku. Saat ini aku sungguh sangat menyesali
lintasan-lintasan hati semacam itu, dan aku masih terus belajar untuk
memperbaiki pemaknaan dari setiap hal yang kulakukan. Sayang sekali
ibadah-ibadah yang telah dilakukan hanya sebatas pemaknaan yang begitu rendah.
Bukankah sebaiknya ibadah-ibadah itu aku maknai untuk mendekatkan diri kepada
Allah, bukankah Allah pun bahagia ketika hambanya tulus mendekatkan diri
dengan-Nya, bukan sebatas karena materi yang diharapkan dari hubungan yang
dijalinnya dengan Allah tersebut.
Bukankah hal yang
covernya baik, namun ketika dimaknai buruk pada akhirnya akan menjadi tak baik.
Ketika pemaknaan kita pada sesuatu salah, dan kelak ketika hasil yang kita
dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, hanyalah penyesalan yang
mengepung pikiran kita. Tapi ketika kita dapat memaknai dengan benar apa yang
kita lakukan, insya.Alloh kemanfaatannya lebih banyak. Tingkat pemaknaan
menentukan kualitas dari hal-hal yang kita lakukan. Bukankah tidak ada hal yang
percuma didunia ini, maka lakukanlah segala hal dengan pemaknaan yang tinggi,
agar berkualitas tinggi pula. Ketika beribadah perbaiki pula pemaknaan kita
agar ibadah kita memiliki kualitas yang tinggi dimata Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar