Bahasa Jawa yang kian terkikis
Bahasa Jawa yang kian
terkikis
Mendengar
kata budaya jawa, hal yang terlintas dipikiran kita mungkin identik dengan
bahasanya yang lembut, halus dan penuh sopan santun. Mungkin dapat pula
terlintas seperti pakaian blankon, baju kebaya, atau bahkan yang paling menonjol
adalah kesenian wayang. Hal lain yang mungkin identik dengan budaya Jawa adalah
ritual-ritualnya yang kebanyakan terkait dengan hal-hal ghaib, dunia astral dan
hal-hal lain yang tak dapat dipahami oleh akal.
Banyak
yang bilang bahwa anak-anak muda jaman sekarang, khususnya pemuda-pemuda yang
mempunyai darah kejawen, nilai-nilai kejawen’nya (kejawaannya) telah mulai
luntur. Misalnya saja anak keturunan jawa asli, dari mbah-mbahnya asli orang
jawa, kemudian sejak kecil dia berpindah ke kota. Di kota, anak ini dituntut
banyak hal sesuai standard-standard anak-anak kota lain seperti bahasa Inggris
baik pasif maupun aktif, berbicara lancar didepan umum, belum lagi kehidupan
kota yang sering diwarnai dengan banyak budaya yang melebur, apalagi mulai
dibukanya era pasar bebas. Banyak berdiri mall-mall besar yang kental sekali
dengan budaya-budaya barat. Kehidupan malam seperti diskotik, kafe, restoran,
banyak sekali hal yang merupakan budaya peleburan. Nah, dari sini si anak
pertumbuhannya akan diwarnai dengan kehidupan kota yang begitu kompleks.
Kemudian unsur-unsur kejawen dari dirinya mulai terkikis, hingga kemudian yang
tersisa hanyalah keturunan saja yang jawa, namun tak pandai berbahasa Jawa.
Hal
lain yang mengenaskan adalah ketika banyak pemuda-pemuda jaman sekarang yang
lebih menyukai budaya-budaya barat daripada budaya kita sendiri. Coba lihat
saja, misalnya hardcore, pop, music jazz, reggae, dan masih banyak lagi, hitung
berapa banyak peminatnya. Ratusan, bahkan mungkin ribuan dari kalangan anak
muda jaman sekarang. Sekarang mari kita bandingkan dengan peminat wayang,
campur sari. Dapat dipastikan bahwa peminatnya mayoritas adalah
generasi-generasi muda juga, namun muda puluhan tahun silam. Jadi intinya ya,
orang-orang tua, ya mungkin memang ada muda-mudi jaman sekarang yang menyukai
ragam-ragam budaya jawa, tapi ya itu tadi, jumlahnya pasti tidak sebanding
dengan penyuka musik-musik yang seperti telah saya sebutkan.
Generasi-generasi
tua mungkin banyak yang berkomentar, generasi muda jaman sekarang sangat
memprihatinkan, banyak yang tidak peduli dengan budaya sendiri, luntur sudah
nilai-nilai budaya kejawen kita. Ya memang betul Bapak, Ibu, kalau mengingat
hal demikian memang betul. Seharusnya kita tanggap akan hal itu, sebagai
generasi muda sudah seharusnya kita menguri-uri budaya Jawa, membudayakan
budaya kita, paling tidak mencintai dan menyukai karya mbah-mbah kita. Namun,
saya ingin sedikit memberikan pendapat dan sanggahan, atau mungkin dapat
dikatakan sebagai hasil pengamatan dari teman-teman, dan lingkungan sekitar.
Begini,
pertama-tama saya akan lihat dari sudut pandang diri saya sendiri. Sebagai
generasi muda jaman sekarang, sebagai pemudi asli keturunan Jawa, sudah sebagai
kewajiban saya untuk menguri-uri budaya Jawa, yah seharusnya begitu. Hal ini
pun didukung dengan keprihatinan saya ketika budaya Jawa banyak dipelajari oleh
warga-warga asing, baru deh kalau ada orang asing yang minat kita jadi
berbangga diri dengan budaya kita. Namun, hal ini seringkali berbenturan dengan
realitas jaman sekarang yang cenderung menghambat. Ya tidak munafik, jujur jika
saya ditawari untuk mendengarkan music campur sari, atau music pop, saya lebih
memilih untuk mendengarkan music pop. Kenapa? Ya tidak lucu juga kalau misalnya
ada teman yang membuka list lagu saya, kemudian yang ada disana adalah lagu-lagunya
Didi Kempot-Cucak Rowo, Sewu kutho, atau lagunya Manthos, tentu saya akan
menjadi bahan tertawaan di kelas. Terkesan aneh daaann,,, ya intinya absurd banget nih cewek, gitulah. Coba
sekarang, ketika kita dituntut untuk lihai berbahasa Inggris, karena tuntutan
jaman juga. Akhirnya kita mati-matian belajar bahasa Inggris, ikut les, hafalan
tenses, latihan conversation, dan banyak hal lain yang terkadang membuat kita
hampir gila karenanya. Setelah kita pandai dan lihai berbahasa Inggris,
sampai-sampai terkadang ketika akan mengucapkan sesautu dalam bahsa Jawa
kebingungan dan lebih teringat apabila kata itu diucapkan dengan bahasa
Inggris, wahduh tingkat tinggi sich kalau itu, saya sendiri masih jauh dari
capaian itu. Namun disisi lain, ketika ada orang tua mengajak kita berbahasa
Jawa krama, dan agak canggung kita mengucapkan kata demi kata, bahkan mungkin harus berpikir lama dulu untuk
mengucapkan setiap suku kata, sampai lebih terlihat seperti anak SD yang masih
belajar bahasa Jawa, “Mbah nyuwun pamit
rumiyin kulo badhe kondor.” Nah itulah contoh salah satu bahasa salah
kaprah yang malah menghormati diri sendiri dan kata-kata ini masih sering saya
dengar dikalangan banyak orang, baik itu pemuda, anak-anak, atau bahkan orang
tengah baya yang berbicara dengan orang yang lebih tua, namun tidak menyadari
bahwa kalimatnya salah kaprah.
Jadi
sudah selayaknya kita jangan mudah menjudge
bahwa generasi saat ini, atau mungkin ketika sudah menjadi generasi tua besok
dengan memberikan komentar-komentar pedas seperti “Orang Jawa kok tidak bisa bahasa Jawa”, lah berarti itu salah anda
juga tidak bisa menguri-uri budaya Jawa, sampai kesemua orang, kalau anda
pinter berbahasa Jawa, dalam hal ini tata bahasa juga, maka tolong ajari kami
berbahasa Jawa, karena generasi kami lebih kompleks dengan berbagai tuntutan
yang tidak mudah seiring kemajuan zaman dan teknologi, dan tantangan kami pun
semakin berat kedepannya, kami tahu kami harus menguri-uri budaya Jawa. Kami pun
punya cara-cara sendiri untuk melakukan hal itu, bukan hanya dengan menghafal
tata bahasa Jawa saja, mungkin hal lain yang terkadang tidak terpikir oleh
orang kebanyakan.
So,
don’t judge everything that you didn’t know enough… :)
Komentar
Posting Komentar